Jumat, 01 Juli 2011

Banua Hujung Tanah (Negara Dipa)

Cerita ini berasal dari negeri Keling. Di sana hidup seorang pedagang yang kaya raya bernama saudagar Mangkubumi. Istrinya bernama Siti Rara. Anaknya bernama Empu Jatmika. Setelah Empu Jatmika besar kemudian dia kawin dengan Sari Manguntur. Dari perkawinannya ini Empu Jatmika mendapat dua orang putra, bernama Empu Mandastana dan Lembu Mangkurat.
Saudagar Mangkubumi jatuh sakit ketika kedua cucunya masih remaja. Semua anggota keluarga dititahkan untuk berjaga selama 40 hari, siang dan malam. Saudagar Mangkubumi meminta supaya anak dan cucunya datang menghadap ketika beliau hampir meninggal dunia. Kemudian dia berpesan kepada anaknya Empu Jatmika supaya menjaga seluruh keluarga dengan sebaik-baiknya. Selain itu beliau berpesan agar jangan kikir dan bersikap adil terhadap setiap orang. Hendaklah anaknya menerima dan mendengar setiap permohonan orang yang datang menghadap dengan segera. Itulah kata-kata terakhir dari saudagar Mangkubumi.
Sebelumnya juga beliau berpesan supaya anaknya pergi merantau ke luar negeri Keling karena di negeri Keling ini terdapat banyak orang yang suka iri hati dan dengki. Anaknya Empu Jatmika harus mencari negeri yang bertanah panas dan berbau harum. Untuk mengetahui hal itu hendaklah dia menggali tanah yang didatanginya, kira-kira pada tengah malam dan mengambilnya sekepal. Jika telah berhasil menjumpai daerah yang tanahnya memenuhi syarat-syarat itu, hendaklah dia menetap di sana. Karena di tempat itulah dia mendapat rahmat dan kebahagiaan. Tanaman-tanaman akan tumbuh subur. Saudagar-saudagar akan berdagang, dan negara akan terhindar dari gangguan musuh. Jika tanah itu harum tetapi dingin, maka kebahagiaan dan kemakmuran hanyalah sekadar saja. Baik dan buruk ada di dalam keadaan seimbang. Jika tanah itu berbau busuk dan lagi dingin, maka niscaya negara itu senantiasa ditimpa bahaya. Menderita kesukaran yang tidak putus-putusnya.
Setelah berpesan demikian, saudagar Mangkubumi menutup mata untuk selama-lamanya. Semua keluarga berduka cita, dan meratapi dengan tangis kesedihan. Untuk mengikuti kebiasaan pada zaman dahulu kala, upacara pemakaman berlangsung dengan disertai pembagian beribu-ribu lembar kain dan berpuluh-puluh ribu uang yang ditaburkan.
Mengingat akan pesan ayahnya, Empu Jatmika setuju sekali untuk meninggalkan negerinya. Dia memerintahkan hulubalang Arya Megatsari dan Tumenggung Tatah Jiwa untuk datang menghadap. Juga Wiramartas yang merupakan seorang ahli bahasa. Wiramartas fasih dalam berbahasa Arab, Persi, Melayu, Tionghoa, dan lain-lain. Kemudian Wiramartas ditunjuk sebagai kepala dari rencana perjalanan ini.
Tidak lama kemudian, bertolaklah dari negeri Keling, armada yang berlayar dengan dipelopori oleh kapal Si Prabayaksa. Empu Jatmika terdapat dalam kapal pelopor ini. Tidak lama kemudian, armada berlabuh di sebuah pulau. Tetapi ternyata pulau itu tidaklah bertanah panas dan harum. Dengan sedikit kecewa pelayaran diteruskan. Armada kemudian berlabuh di pulau Hujung Tanah. Sementara berlabuh Empu Jatmika tertidur dan bermimpi. Dalam mimpinya itu dia serasa berjumpa dengan almarhum ayahanda, yang berpesan supaya mendarat di pulau Hujung Tanah. Di situlah dia akan menjumpai apa yang dicari.
Pagi-pagi benar pergilah Empu Jatmika dengan empat orang pengiringnya menuju pulau Hujung Tanah. Dia mengambil tanah di sana, dan benarlah di sini hawanya panas laksana api, harum bagai daun pudak. Dengan batu-batu yang dibawa dari negeri Keling, dimulailah membangun sebuah candi. Kemudian didirikan pula sebuah istana lengkap dengan balairung, pendopo dan perbendaharaan. Dengan suatu upacara di dalam balairung, Empu Jatmika memberikan nama kepada negara baru itu Nagara Dipa. Dia sendiri menjadi raja di negara ini dengan gelar Maharaja di Candi.
Pada waktu itu terdapat kepercayaan kepada peribahasa: “Siapa yang tidak berdarah bangsawan, tetapi oleh karena kekayaan dapat menjadi raja, dia akan ditimpa oleh bencana. Demikian pula bencana itu akan menimpa mereka yang mengakui orang itu sebagai raja”! Oleh karena itu, Empu Jatmika membuat patung dari kayu cendana. Patung inilah yang seolah-olah dijadikan raja dan kepadanya seolah-olah diletakkan kekuasaan yang tertinggi. Ahli-ahli tatah ukir membuat dua buah patung, yang berwujud seorang laki-laki dan seorang perempuan. Patung-patung itu dihiasi dengan seindah-indahnya dan diukup dengan dupa serta wangi-wangian kemudian diletakkan dalam candi. Setiap hari Jumat datanglah raja mengunjungi patung-patung itu.
Pada suatu ketika raja menitahkan supaya Hulubalang Arya Megatsari membawa tentara 1000 orang untuk menaklukkan daerah Batang Tabalong, Batang Balangan, dan Batang Pitap. Dengan kekuasaan tentara yang sama pula, berangkatlah Tumenggung Tatah Jiwa ke daerah Batang Alai, Batang Hamandit, dan Labuan Emas. Kedua ekspedisi ini berhasil. Semua pemimpin-pemimpin rakyat di daerah yang ditaklukkan itu dibawa menghadap raja. Mereka semua diwajibkan untuk tunduk kepada perintah kedua hulubalang. Setiap musim panen mereka haruslah menyerahkan upeti yang jumlahnya telah ditetapkan. Setelah dijamu secara mewah, semua pemimpin itu diperkenankan kembali ke daerah masing-masing, dengan perjanjian tidak akan lagi bermusuhan antarsesama mereka.
Sesudah pemimpin-pemimpin itu kembali ke daerah masing-masing, raja mencurahkan perhatiannya kepada keadaan istana. Segala peraturan, susunan pegawai, upacara istana disesuaikan dengan tatakrama Majapahit. Ketika semua peraturan telah tersusun dengan baik, Empu Jatmika mengirimkan armada ke negeri Keling. Di bawah pimpinan nakhoda Lampung, mereka menjemput keluarga dan harta benda yang berharga yang masih ketinggalan.
Di dalam perjalanan pulang armada ini dilanda angin taufan. Kapal-kapal terserak ke sana ke mari, sebagian hanyut ke Laut Kidul. Akibatnya banyak anak buah kapal yang tewas. Sisa dari armada itu tiba kembali ke Nagaradipa dengan selamat. Para nakhoda mendapat hadiah. Di antaranya sebuah pedang yang indah permai.
Pada suatu upacara yang biasanya dilakukan pada setiap hari Sabtu, raja memberitahukan kepada Arya Megatsari dan Tumenggung Tatah Jiwa, keinginannya untuk mengganti patung-patung kayu yang lambat-laun telah menjadi lapuk dengan patung dari gangsa. Ketika itu raja mengetahui bahwa bangsa Tiongkok adalah bangsa yang pandai dan ahli dalam pembuatan patung gangsa. Maka beliau memutuskan untuk mengutus Wiramartas menghadap Raja Tiongkok dengan membawa bingkisan yang berharga, diantaranya terdapat 10 ekor kera jenis orang hutan.
Dengan tidak banyak mendapat kesukaran, utusan di bawah pimpinan Wiramartas itu tiba di Tiongkok. Di dalam suatu sidang resmi, Wiramartas mempersembahkan surat dari raja Negara Dipa. Seorang pandita Raja Tiongkok membacakan surat tersebut. Kemudian Raja Tiongkok menitahkan supaya memenuhi permintaan Raja Negaradipa. Kemudian Raja Tiongkok masuk ke dalam istana. Setelah musim baik tiba, berlayar pulanglah Wiramartas. Empat puluh orang ahli patung milik Raja Tiongkok ikut serta. Selain itu, dikirim pula berbagai aneka macam hadiah, seperti tikar permadani, kain sutera dan barang-barang porselen. Wiramartas sendiri mendapat hadiah pakaian yang indah dan sebilah pedang Jepang.
Setelah Wiramartas sampai di pelabuhan Negara Dipa, utusan ini disambut secara meriah. Dalam sidang, Wiramartas menyampaikan laporan dari perjalanan dan membacakan surat dari Raja Tiongkok. Wiramartas dengan pengiring-pengiringnya diberi hadiah, yakni sebagai balas jasa atas menjalankan kewajibannya dengan sangat baik. Kepada Wargasari, bendahara raja, diserahkan bingkisan Raja Tiongkok. Sedangkan Arya Megatsari diperintahkan untuk menjaga ahli-ahli seni rupa bangsa Tionghoa itu.
Dalam waktu yang singkat, ahli-ahli bangsa Tiongkok itu selesai dengan tugas mereka. Dua patung gangsa yang berbentuk seorang laki-laki dan seorang perempuan yang ukurannya sebesar anak kecil, diserahkan kepada raja. Raja sangat mengagumi pekerjaan para ahli itu. Kemudian raja menitahkan untuk melemparkan patung-patung dari kayu cendana ke dalam laut, dan menempatkan patung gangsa sebagai gantinya di dalam candi. Empat puluh pandita dititahkan untuk menjaga patung-patung itu. Di dalam waktu tertentu, mereka harus membersihkan dan menggosoknya dengan pasir halus, agar patung itu tidak berkarat. Kemudian diusap dengan narawastu dan diasapi dengan kemenyan. Setiap malam Sabtu, haruslah pandita-pandita itu menaburi patung-patung itu dengan bunga melati, cempaka, dan bunga pudak.
Di zaman itu, Negara Dipa termasyhur ke mana-mana. Pembentukan negara dan cara pemerintahan mengikuti adat dari kerajaan Majapahit. Pakaian dan kebiasaan harus meniru pula pakaian adat dan kebiasaan Jawa. Malah raja tidak lagi menghendaki rakyatnya berpakaian secara Keling atau Melayu. Karena Negara Dipa adalah negara yang berdiri sendiri dan haruslah mengambil bentuk yang selaras dan pantas. Selanjutnya raja memperingatkan rakyatnya, jangan menanam lada untuk perdagangan seperti di Sriwijaya. Sebab di tempat tumbuhnya lada, akan terdapat kekurangan bahan makanan. Tumbuh-tumbuhan tidak akan tumbuh subur oleh hawa panas lada. Negara akan menerima kesukaran dan pemerintahan akan runtuh. Jika orang ingin menanam juga lada, hendaknya jangan lebih dari empat sampai lima rumpun, yakni sekadar cukup untuk keperluan sendiri.
Beberapa lama kemudian Empu Jatmika jatuh sakit. Banyak tabib yang didatangkan, tapi tidak berhasil. Siang dan malam banyak rakyat yang berjaga-jaga di sekitar istana. Akhirnya raja menitahkan agar kedua putranya menghadap. Juga kedua hulubalang, Arya Megatsari dan Tumenggung Tatah Jiwa. Dengan tegas raja memperingatkan agar kedua putranya jangan menerima kehormatan untuk menjadi raja. Sebab bencana dan malapetaka akan selalu menimpa setiap orang yang menjadi raja, jika dia bukan berasal dari kaum bangsawan. Beliau sendiri meletakkan kekuasaan pada patung-patung karena khawatir di timpa bencana. Jika beliau mangkat haruslah patung-patung itu dilemparkan ke laut. Sedangkan putra-putranya dititahkan mencari raja manusia dengan jalan Empu Mandastana haruslah bertapa di gunung, di dalam gua atau di pohon-pohon besar. Sedangkan Lembu Mangkurat haruslah bertapa di pusaran air yang dalam. Sesudah memberikan peringatan ini, rajapun mangkat.
Pemakaman jenazah baginda dilakukan dengan upacara kebesaran. Kemudian oleh pandita-pandita dilakukan upacara membuang patung-patung ke dalam laut. Kemudian Empu Mandastana dan Lembu Mangkurat pergi bertapa memenuhi anjuran ayahanda mereka, Empu Jatmika. Dua tahun lamanya mereka hidup mengasingkan diri, dengan mengurangi makan, minum, dan tidur. Akan tetapi, yang diharap-harap belum juga tiba, sehingga mereka telah berniat untuk pulang kembali.
Pada suatu malam Lembu Mangkurat bermimpi. Dalam mimpinya seolah mendengar suara almarhum ayahandanya. Beliau menganjurkan supaya Lambu Mangkurat membuat rakit-rakit dari 14 batang pohon pisang saba dengan berlangit-langit kain putih. Di empat sudut digantungkan mayang mengurai. Lambu Mangkurat harus pula membakar dupa, dan berhanyut ke hilir sungai dengan tidak merasa gentar, bila seandainya bertemu buaya, ikan, dan ular besar. Jika dia dan rakitnya sampai di Lubuk Bargaja, maka rakit itu akan berputar di pusaran air. Kalau pusaran air ini tenang kembali, dia akan melihat sebuah buih raksasa. Dari dalam buih ini akan terdengar suara perempuan yang berbicara kepadanya. Perempuan inilah yang akan menjadi raja putri Negara Dipa.
Besok harinya Lembu Mangkurat melaksanakan petunjuk yang terdapat dalam mimpinya. Dengan rakit yang memenuhi syarat seperti yang dikehendaki, diapun berhanyut ke hilir. Dengan tidak merasa takut, walaupun sepanjang jalan bertemu dengan buaya, ikan, dan ular-ular besar.
Akhirnya dia melihat buih yang bercahaya-cahaya timbul ke permukaan air. Suatu suara yang lemah lembut dan merdu bertanya: “Lembu Mangkurat, apakah yang engkau perbuat di sini?” Lembu Mangkuratpun menjawab: “Hamba mencari seorang raja untuk memerintah di Negara Dipa!” Suara itu kedengaran lagi. “Lembu Mangkurat, aku adalah raja putri, Putri Tunjung Buih yang engkau cari!”. Lembu Mangkurat terus berjanji mempersembahkan candi sebagai istana. Tetapi Putri Tunjung Buih menolak tinggal di sana. Karena di situ pernah di letakkan patung-patung yang dijadikan berhala. Dia meminta supaya membangun sebuah mahligai. Sebagai tiangnya haruslah diambil 4 pohon batung batulis dari gunung Batu Piring. Mahligai itu haruslah selesai dikerjakan di dalam satu hari. Selanjutnya empat puluh orang gadis harus menyelesaikan selembar kain kuning yang panjangnya 7 meter dan lebarnya 2 meter. Kain itu akan digunakan oleh putri sebagai selendang jika dia bepergian.
Setelah mengetahui hal ini semua, Lembu Mangkurat pun segera memberitahukan peristiwa ini kepada Empu Mandastana. Rakyat dilarang melayari sungai tersebut sebelum putri naik ke mahligai. Empat orang patih mendapat perintah untuk mengambil 4 pohon batung batulis. Benarlah, pada hari itu permintaan Putri Tunjung Buih selesai, seperti mahligai. Sedangkan keempat puluh orang gadis dapat pula memenuhi kewajiban yang dipikulkan kepada mereka untuk membuat selembar kain langgundi.
Dengan suatu upacara kebesaran, berangkatlah Lembu Mangkurat menjemput sang Putri Tunjung Buih dengan diiringi oleh 40 orang gadis yang berpakaian kuning. Dengan khidmat kain kuningpun dipersembahkan kepada Putri Tunjung Buih. Bercahaya-cahaya, gilang-gemilang keluarlah putri dari dalam buih, berpakaian rapi dan berselendang kain kuning yang dibuat oleh para gadis. Dengan diiringi oleh rakyat, berangkatlah Putri Junjung Buih menuju mahligainya. Hanya 40 orang gadis pengiring yang diperkenankan tinggal bersama Putri.
Kini Putri Junjung Buih pun menjadi raja di Negara Dipa. Di dalam wujudnya, pemerintahan diserahkan kepada kebijaksanaan Lembu Mangkurat, walaupun dia adalah adik dari Empu Mandastana. Dan ia pulalah yang memberikan keputusan-keputusan yang penting di dalam soal yang bertalian dengan urusan negara.
Pada suatu hari Lembu Mangkurat menghadap Putri Junjung Buih, dengan maksud menanyakan apakah dia tidak akan memilih suami. Dengan tegas Putri Junjung Buih itu menjawab: “bahwa dia hanya akan kawin dengan seorang laki-laki yang diperoleh dengan bertapa”. Jawaban ini menimbulkan kesukaran yang tidak mudah dipecahkan. Dengan agak malu Lembu Mangkurat memohon diri pulang.
Adapun Empu Mandastana berputra dua orang, yaitu Bangbang Sukmaraga dan Bangbang Patmaraga. Setiap hari, kedua anak muda itu bermain di sekitar mahligai Putri Junjung Buih. Banyak anak gadis yang jatuh cinta kepada kedua anak muda ini. Mereka menjalin pantun dan menggubah seloka untuk menyatakan kerinduan mereka.
Pada suatu hari Putri Junjung Buih melihat kedua anak muda itu, hingga diketahuinya kedua anak itu adalah putra-putra dari Empu Mandastana. Sekadar untuk memberi hadiah sebagai tanda kebahagiaan hatinya, Putri Junjung Buih memberi sekuntum bunga nagasari kepada mereka. Bunga nagasari pada waktu itu belum tumbuh di Negara Dipa. Tetapi malang, tepat pada saat itu paman mereka, Lembu Mangkurat lewat di sana.
Dengan gusar dan cemburu Lembu Mangkurat menanyakan apa yang mereka perbuat di sekitar istana itu. Kemudian ia melarang kedua putra kakaknya itu untuk datang bermain-main di dekat kediaman raja. Hal itu karena Lembu Mangkurat berpendapat, kalau nanti sampai Putri Junjung Buih ingin bersuamikan salah seorang dari kemenakannya, maka dia kelak sebagai paman akan menyembah anak kakaknya. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk menyingkirkan kedua anak muda itu.
Pada suatu hari dengan alasan bersama-sama akan pergi mencari ikan, ia mengajak kedua kemenakannya, yaitu Bangbang Sukmaraga dan Bangbang Patmaraga ke hulu sungai. Kedua anak itu menurut saja ajakan pamannya itu. Namun sebelum berangkat, mereka telah bermohon dan menyatakan selamat berpisah kepada ayah dan bunda mereka. Hal inilah yang kemudian menjadi pangkal kecurigaan.
Menjelang keberangkatan, Bangbang Sukmaraga menanam sebatang pohon kembang melati di sebelah kanan dari pintu rumah, sedangkan adiknya Bangbang Patmaraga menanam sebatang kembang merah di sebelah kiri, seraya berkata: “Jika daun-daun ini rontok berguguran, maka itulah tandanya kami berdua kakak beradik mati dibunuh oleh paman Lembu Mangkurat”!
Dengan berbaju putih, mereka pergi ke perahu, sedangkan Lembu Mangkurat telah datang terlebih dahulu menunggu mereka. Mereka bersama-sama berangkat dengan perahu ke hulu sungai hingga sampai di Batang Tabalong. Di sinilah kedua anak kakaknya tersebut dibunuh. Lembu Mangkurat menjadi keheran-heranan setelah mengetahui bahwa mayat Bangbang Sukmaraga dan Bangbang Patmaraga hilang lenyap seketika itu juga. Sampai sekarang tempat pembunuhan ini masih dikenal dengan nama Lubuk Badangsanak.
Empu Mandastana dan istrinya yang sedang dalam keadaan cemas dan khawatir menunggu kabar anaknya, tiba-tiba dikejutkan oleh datangnya sejoli burung merak. Yang jantan hinggap di pangkuan Empu Mandastana dan yang betina di pangkuan istrinya. Maklum akan tanda-tanda ini, berdebar-debarlah hati Empu Mandastana dan istrinya. Seolah-olah mereka tahu bahwa kedua putra mereka telah mati dibunuh. Dengan serempak mereka menengok pohon-pohon yang ditanam oleh putra-putranya. Ketika melihat pohon-pohon itu, berlinanganlah air mata mereka karena daun-daun pohon itu satu demi satu berguguran. Segera mereka mengambil keputusan untuk mengikuti nasib kedua putranya, yaitu Bangbang Sukmaraga dan Bangbang Patmaraga. Setibanya mereka kembali ke candi, Empu Mandastana menikam dirinya dengan sebuah keris Keling yang bernama Parung Sari dan istrinya dengan Lading Malela.
Beberapa hari kemudian barulah Lembu Mangkurat mengetahui kematian kakaknya. Ia menanyakan kepada semua pengiring di manakah mereka paling akhir melihatnya. Tetapi walaupun sudah diselidiki dengan saksama, orang-orang tidak juga menjumpai Empu Mandastana dan istrinya. Sambil menduga apa yang mungkin terjadi, Lembu Mangkurat pergi menuju Candi. Di sana dia menjumpai kedua sosok tubuh yang telah menjadi mayat, terbaring tenang laksana tidur, sedangkan keris dan lading untuk bunuh diri tergeletak di samping mereka masing-masing. Di sekelilingnya tampak banyak burung yang mati bergelimpangan karena terbang melangkahi kedua mayat keramat itu.
Lembu Mangkurat memerintahkan pengiring-pengiringnya untuk membuang kedua mayat itu serta tanah-tanah tempat mayat itu terbaring ke laut. Di tempat itu kemudian menjadi sebuah telaga yang sampai sekarang dinamakan Telaga Raha. Konon jika ada seorang yang dianggap bersalah dan dibunuh, maka kelihatan air Telaga Raha itu akan berwarna kemerah-merahan selama dua puluh empat jam. Demikian pula halnya dengan sungai yang berhulu dari gunung Batu Piring, yaitu gunung tempat mengambil batung batulis untuk membuat tiang mahligai Putri Junjung Buih. Sampai sekarang sungai ini masih terkenal dengan nama Sungai Darah.
Pada suatu malam Lembu Mangkurat bermimpi bahwa almarhum ayahandanya menceritakan bahwa Raja Majapahit ketika bertapa mendapat seorang putera yang layak untuk menjadi suami Putri Junjung Buih. Di dalam mimpinya diceritakan bahwa semula Raja Majapahit mendapat nasihat dari seorang tua supaya bertapa di gunung Majapahit dan kelak malaikat dari kayangan akan memberikan baginda seorang putera. Jika baginda menjaga anak ini baik-baik, kekuasaan dan kemasyhurannya akan bertambah luas. Selain itu sebagai tanda rahmat kebahagiaan, akan lahir lagi enam orang anak. Pada keesokan harinya, Raja Majapahit berangkat bertapa ke gunung tersebut. Sesudah empat puluh hari lamanya beliau bertapa, baginda benar-benar mendapat karunia seorang putra yang diberi nama Raden Putra. Kemudian baginda kembali ke istana. Sesudah beberapa lama akhirnya lahir enam orang anak, tiga orang putra dan tiga orang putri. Kekuasaan Majapahit kian hari kian bertambah besar. Demikianlah cerita yang disampaikan oleh almarhum ayahandanya di dalam mimpi.
Berdasarkan mimpinya itu, Lembu Mangkuratpun memerintahkan dengan segera untuk menyiapkan kapal Si Prabayaksa dan kapal-kapal lainnya. Selain Wiramartas, ikut pula empat orang patih serta sepuluh orang nakhoda, Puspawana, Wangsanala, dan Sarageni. Rombongan ini berangkat dari Negaradipa dan langsung dipimpin oleh Lembu Mangkurat. Tidak lama kemudian sampailah mereka di pelabuhan Majapahit.
Ketika Syahbandar Pelabuhan Majapahit menerima kabar tersebut, maka iapun pergi ke pangkalan untuk menyaksikan sendiri orang asing yang datang itu. Betapa terkejut hatinya ketika melihat begitu banyak kapal yang berlabuh, sehingga keluar dari mulutnya: “selama orang-orang asing datang ke sini, belum pernah seperti ini”! Syahbandar Pelabuhan Majapahit segera kembali dengan membawa kabar, bahwa orang-orang asing itu berasal dari Negara Dipa di bawah pimpinan Lembu Mangkurat. Mereka datang dengan maksud mengunjungi Raja Majapahit. Dengan segera Syahbandar pelabuhan pergi ke istana kerajaan Majapahit dan menyampaikan laporan kepada Patih Gajah Mada. Kemudian Patih Gajah Mada menyampaikan berita ini kepada Raja Majapahit.
Berita kedatangan Lembu Mangkurat ini menimbulkan kekhawatiran Raja Majapahit, yang selama ini tidak pernah merasa gentar kepada raja asing mana pun. Meskipun demikian, beliau tetap mempersilakan Lembu Mangkurat untuk menghadap. Dengan berpakaian kebesaran yang gemerlapan, berangkatlah Lembu Mangkurat menunggang kuda putih didampingi oleh para pengawal yang bersenjata pedang. Para patih, hulubalang dan nakhoda-nakhoda berbaris pula mengikuti mereka dengan pakaian kebesaran yang indah. Paling belakang terdapat barisan dari lima ratus tentara yang berjalan kaki dan lima ratus orang yang menunggang kuda. Arak-arakan seindah itu belum pernah terlihat di Majapahit.
Sesudah tiga hari, barisanpun sampai di dalam kota. Di Sitiluhur telah menunggu Patih Gajah Mada, Arya Dilah, Arya Jamba, Rangga Lawe, Arya Sinom, Kuda Pikatan, Hajaran Panulih, dan Dipati Lampur. Sejurus kemudian terdengarlah dentuman senapan yang memberikan tanda bahwa raja akan keluar dari istana. Dengan diiringi bunyi gamelan, raja berjalan keluar. Di atas panggung terdengar gamelan membunyikan lagu lokananta, sedang di Paseban dibunyikan galaganjur. Tombak upacara, bendera, dan panji-panji dibawa ke hadapan raja. Beberapa rombongan masing-masing terdiri atas empat puluh orang, datang berbaris dengan memakai pakaian seragam yang indah. Kemudian raja duduk di Sitiluhur, sedangkan untuk pengawalan ditempatkan Singanegara (polisi) sebanyak empat ratus orang di sekeliling istana. Di hadapan raja duduk pula dua ratus orang wanita dengan memakai sarung yang keemas-emasan. Mereka adalah para pengiring yang diwajibkan untuk membawa keperluan-keperluan raja, seperti tikar, kendi, alat merokok, dan sebagainya. Lembu Mangkurat dipersilakan masuk ke ruang tamu istana didampingi oleh empat orang patih yang duduk di belakangnya.
Tak lama kemudian Patih Gajah Mada memasuki ruang tamu. Beliau menyalami tangan Lembu Mangkurat, kemudian menanyakan maksud kedatangannya. “Kami datang untuk menghadap Raja Majapahit”! kata Lembu Mangkurat. Kemudian Patih Gajah Mada menanyakan lagi apa gerangan yang diinginkan Lembu Mangkurat yang lain. Kalau diperkanankan ia akan membawa anak Raja Majapahit ke Negara Dipa untuk dikawinkan dengan Putri Junjung Buih, raja dari kerajaan Negara Dipa. Sesudah itu Lembu Mangkurat juga menyerahkan bingkisan-bingkisan yang berharga.
Patih Gajah Mada kemudian menerangkan bahwa baginda tidak mempunyai anak lagi. Enam orang putra-putri telah kawin semuanya. Kemudian Lembu Mangkurat menerangkan bahwa ia hanya menghendaki putera Raja Majapahit yang diperoleh dari bertapa. Akhirnya Raja Majapahit berjanji akan menyerahkan sesudah tujuh hari kepada Lembu Mangkurat. Kemudian Raja Majapahit meninggalkan ruang tamu dengan diiringi bunyi gamelan. Patih Gajah Mada ditunjuk untuk menjamu Lembu Mangkurat beserta pengiringnya.
Tujuh hari tujuh malam secara terus-menerus diadakan perayaan untuk menghormati tamu dengan mengadakan pertunjukan-pertunjukan seperti topeng, wayang orang, wayang purwa, wayang gedog, dan sebagainya. Selain itu, diadakan pula pertandingan ketangkasan keprajuritan. Setelah tiba waktunya, benarlah raja dengan ikhlas menyerahkan putranya yang bernama Raden Putra. Lembu Mangkurat mendapat banyak hadiah dari Raja Majapahit untuk dibawa pulang seperti dua payung besar, dua payung kertas, dua bedil cacorong, satu keris Jaka Piturun, satu gamelan Si Rarasati, satu babande Si Macan, satu pepatuk Si Mundaran.
Raden Putra pun diusung dalam tandu dibawa menuju ke pelabuhan. Iring-iringan kapal berangkat dengan segera dan dalam empat hari sampailah di Pendamaran.
Angin tiba-tiba berhenti bertiup, reda, teduh, dan laut menjadi tenang. Apapun juga telah diperbuat, namun kapal yang ditumpangi Raden Putra tak juga bergerak. Semuanya telah putus asa. Ketika itu berkatalah Raden Putra bahwa ada dua ekor naga putih, yang merupakan rakyat dari Putri Junjung Buih melilit dan menahan kapal. Raden Putra menyatakan bahwa dia siap melompat ke laut untuk mengusirnya. Sekarang Lembu Mangkurat mengakui kelebihan Raden Putra. Lembu Mangkurat yang semula tidak menunjukkan ketakutan terhadap Raja Majapahit, kini menghatur sembah kepada Raden Putra. Raden Putra meminta supaya menunggu tiga hari kepada Lembu Mangkurat. Jika sesudah tiga hari belum timbul juga, haruslah dilakukan puja bantani, karena dengan melakukan puja tersebut tentu dia akan segera timbul kembali.
Dengan hati yang berdebar-debar setelah mereka menunggu selama tiga hari, tetapi Raden Putra belum timbul juga. Wiramartaspun lalu diutus lebih dahulu untuk mengambil kerbau, kambing, dan ayam ke Negara Dipa. Diapun juga diwajibkan untuk membawa menteri-menteri untuk menyambut segala hadiah dari Raja Majapahit. Setelah Wiramartas tiba di Negara Dipa membawa berita, Arya Megatsari dan Tumenggung Tatah Jiwa pun memerintahkan menteri-menteri berlayar ke Pendamaran.
Sesudah diadakan upacara puja bantani tujuh hari tujuh malam, tampaklah tiba-tiba Raden Putra muncul ke permukaan air dengan muka berseri-seri dan bercahaya, memakai baju sutera kuning yang indah dan menakjubkan, serta kaki Raden Putra bepijak di atas sebuah gong besar. Setelah Raden Putra naik ke geladak kapal, Lembu Mangkurat mengait gong besar itu dengan paradah. Oleh karena itu, gong besar tersebut sampai sekarang tetap dikenal dengan nama Si Rabut Paradah.
Raden Putra selanjutnya bergelar Suryanata. Surya artinya matahari, nata artinya raja. Tempat berhenti dan memuja di Pendamaran itu sampai sekarang dinamai Perbantanan.
Kemudian pelayaran diteruskan menyusuri sungai menuju Negara Dipa. Suryanata mendapat tempat tinggal di istana yang pernah didiami oleh Empu Jatmika. Dari daerah Tabalong, Barito, Alai, Hamandit, Balangan, Pitap, Biaju Besar, Biaju Kecil, Sabangau, Mendawai, Katingan, Sampit dan Pembuang datanglah rakyat berduyun-duyun menyampaikan penghormatan kepada Raden Suryanata. Empat puluh hari, empat puluh malam lamanya diadakan perayaan dan pertunjukan, wayang, topeng, rakit, joget. Pada tengah malam pemuda-pemudi para pembesar kerajaan mendirikan padudusan (tempat upacara mandi), sedang orang-orang yang disebut “kadang haji” diperintahkan untuk mengambil air guna upacara perkawinan. Istana, pagungan, sitiluhur dan paseban dihiasi dengan indah.
Dari segala pelosok membanjirlah rakyat hendak menyaksikan dan mengagumi kemeriahan upacara perkawinan Putri Junjung Buih dengan Raden Putra Suryanata. Pada hari upacara padudusan, Suryanata memakai pakaian upacara perkawinan, demikian pula halnya dengan Raja Junjung Buih. Putri Junjung Buih berpakaian dengan hanya boleh dihadiri oleh empat puluh orang gadis dan wanita-wanita dari pembesar istana. Sebagai selendang dipakaikanlah kain yang dikenakan puteri ketika baru timbul dari dalam air. Putri Junjung Buih mempunyai pengiring empat puluh orang gadis yang jelita. Semuanya memakai baju sutera kuning, sedang pengiring buat Suryanata adalah anak-anak para menteri yang diwajibkan antara lain membawa alat-alat merokok, alat menginang, tikar dan sebagainya. Baik kaki mempelai perempuan maupun kaki mempelai laki-laki dibungkus dengan sutera kuning.
Setelah Suryanata selesai berpakaian, diapun melangkah keluar, dan tiba-tiba terdengarlah suara: “Oh Raden Suryanata, janganlah turun sebelum memakai Mahkota dari langit. Mahkota ini sebagai tanda menjadi raja lebih besar dari raja-raja di bawah angin”. Selanjutnya suara gaib itu menerangkan pula, bahwa mahkota itu mempunyai sifat kesaktian dapat menjadi lebih berat atau menjadi lebih ringan, atau menjadi lebih besar atau menjadi lebih kecil. Hanyalah kepada siapa mahkota ini cocok, dialah yang dapat menjadi raja. Dengan sangat khidmat Raden Suryanata mendengarkan suara itu dan kemudian dengan kain kuning yang dibuat oleh para gadis disambutnyalah mahkota itu dan diletakkan di kepala. Raden Suryanata kemudian duduk dalam sebuah usungan.
Dengan disertai oleh bunyi gamelan dan rentetan dentuman bedil serta tepuk sorak dari rakyat, maka usungan pun diusung menuju istana mempelai perempuan. Sampai di sini maka Putri Junjung Buihpun dijemput dan arak-arakan terus menuju ke padudusan. Kedua mempelai turun dari usungan dan duduk di atas empat kepala kerbau dan kemudian naik di panggung yang didirikan untuk upacara itu di balai Patani.
Kemudian datanglah pemimpin-pemimpin negara terkemuka dan penghulu dari bujangga-bujangga di padudusan. Dengan penuh hormat dan khidmat Lembu Mangkurat mula-mula menyiramkan air mandi di atas ubun-ubun mempelai laki-laki dan perempuan. Sesudah itu menyusul Arya Megatsari, Temenggung Tatah Jiwa, dan penghulu tertinggi dari bujangga-bujangga, yang melakukan penyiraman sambil mengucap mantera dan doa selamat. Ketika telah selesai dengan upacara itu, ditaburkanlah beras kuning dan mata uang berpuluh-puluh ribu banyaknya, sedang bunyi gamelan dan rentetan dentuman senapan terdengar pula dengan hebatnya.
Kedua mempelai dibawa ke istana. Di sini kedua pengantin makan bersama-sama dengan nasi adap-adap, sedangkan menteri-menteri pun mendapat bagiannya pula. Sesudah berlangsung tiga hari, tiga malam, barulah kedua mempelai berkumpul, pada waktu subuh. Untuk merayakan kejadian yang menggembirakan ini, gong Si Rabut Paradah dipalu, sedang rarancakan Si Rarasati dibunyikan dan senapan-senapan ditembakkan berdentum-dentuman. Kebiasaan seperti ini masih terus berlaku terutama pada upacara perkawinan kaum bangsawan.
Masih tujuh hari tujuh malam perayaan diteruskan bertempat di Paseban. Rakyat bersuka ria dengan permainan rakit, mengadu ayam, wayang, topeng, dan kecakapan bermain senjata. Keempat puluh orang anak dara mendapat kewajiban masing-masing, diantaranya menjadi parakan, penjogetan, penjaga tempat tidur, makanan, minuman, sirih pinang, dan alat perhiasan.
Setiap Sabtu raja memberikan kesempatan bawahan dan rakyat untuk menghadapnya di Sitiluhur. Tidak berapa lama kemudian, permaisuri hamil. Karena permaisuri mengidam, ingin sekali memakan buah jambu dipa, maka dikirimlah utusan ke Majapahit untuk mengambilkan buah yang diinginkan itu. Sekadar bahan bingkisan untuk Raja Majapahit dikirim seperti lilin, damar, rotan, tikar, dan dua buah intan yang besar.
Kapal berlayar di bawah pimpinan nakhoda Lampung yang segera sampai di Majapahit. Dengan perantaraan Patih Gajah Mada, beliau dibawa menghadap Raja Majapahit. Raja sangat girang setelah mendengar berita yang menggembirakan itu dan dengan segera menitahkan menyerahkan buah-buahan yang diinginkan dengan ditaruh di dalam kotak emas. Nakhoda Lampung segera mohon diri dan berlayar kembali dengan membawa hadiah-hadiah yang berupa beras, kelapa, gula, minyak kelapa, asam kamal, bawang, rempah-rempah dan kain-kain batik yang indah. Setibanya di Negara Dipa, ia dianugerahi pula oleh Maharaja Suryanata karena telah berhasil dengan baik menjalankan perintah yang dititahkan kepadanya.
Setelah cukup bulannya, dan harinya, permaisuripun melahirkan seorang Putra, yang diberi nama Raden Suryaganggawangsa. Peristiwa ini dirayakan dengan membunyikan Si Rabut Paradah, gamelan Si Rarasati, dan senapan-senapan. Kebiasaan ini masih diadakan pada setiap lahirnya anak raja berikutnya.
Beberapa tahun kemudian permaisuri melahirkan kembali seorang putra yang bernama Raden Suryawangsa. Di zaman itu yang takluk kepada Maharaja Suryanata adalah raja-raja Sukadana, Sanggau, dan Sambas, kepala-kepala daerah Batang Lawai, dan Kotawaringin. Juga raja-raja Pasir, Kutai, Karasikan, dan Berau tunduk pula kepada Negara Dipa.
Pada suatu hari raja mengadakan pesta untuk segala Punggawa. Orang ramai bersuka ria. Dengan senda gurau dan gelak tawa. Tetapi sekonyong-konyong raja mengabarkan berita yang mengejutkan mereka, bahwa raja dan permaisuri akan “kembali ke asal”. Oleh karena itu, kedua putra mereka dipercayakan dibimbing atau diasuh Lembu Mangkurat. Rakyatnya diperingatkan jangan meniru-niru pakaian bangsa lain, dan adat serta susunan pemerintahan hendaklah menurut Jawa. Sebab tidak ada satu daerah di bawah angin yang akan dapat menyaingi Jawa. Jadi janganlah pernah menyimpang dari adat Majapahit. Selanjutnya raja mengulangi peringatan raja yang terdahulu, yaitu jangan menanam lada untuk perdagangan karena hal ini akan membawa runtuhnya negara. Juga jangan sekali-sekali menangkap orang-orang yang celaka oleh kekaraman kapal. Setelah mengucapkan amanat dan pesan itu, dengan tiba-tiba lenyap dan gaiblah raja beserta permaisuri dari pandangan rakyat yang merasa heran dan takjub. Seluruh negara turut bersedih dan berkabung.
Sebagai pengganti Maharaja Suryanata, dinobatkanlah Raden Suryaganggawangsa di padudusan dan di sinilah raja memakai mahkota yang datang dari langit. Setelah Raden Suryaganggawangsa memerintah, rajapun memperkenankan pulang gadis-gadis yang menjadi dayang Maharaja Suryanata. Raja memberi hadiah berupa pakaian dan alat-alat perkakas rumah. Bagi mereka yang ingin kawin, dikawinkan oleh raja.
Setelah Maharaja Suryanata, begitupun Maharaja Suryaganggawangsa memberikan pula kesempatan untuk menghadap setiap hari Sabtu dengan bertempat di Sitiluhur. Lembu Mangkurat diangkat menjadi Mangkubumi, sedang Arya Megatsari dan Tumenggung Tatah Jiwa adalah sebagai pengawal. Di bawahnya sebagai jaksa adalah Patih Baras, Patih Wasi, Patih Luhur dan Patih Dulu. Kemudian empat orang Menteri Kemakmuran, Sang Panimba Sagara, Sang Pangaruntun Manau, Sang Pambalah Batung dan Sang Jampang Sasak, yang mempunyai kekuasaan memerintah atas empat puluh orang pasukan keamanan. Juga saudara raja, Pangeran Suryawangsa yang mendapat gelar Dipati mempunyai pula seribu pengiring yang setiap saat siap menerima perintah Mangkubumi.
Lembu Mangkurat selalu mendorong beliau agar cepat beristri karena raja belum mempunyai permaisuri. Namun semua dorongan dan anjuran itu tidak berhasil. Pada suatu hari raja berkata bahwa dia mendengar suara dari paduka ayahanda yang telah gaib (meninggal dunia), mengatakan bahwa raja harus kawin dengan anak Dayang Diparaja. Lembu Mangkurat merasa malu dan khawatir karena dimanakah harus mencari permaisuri yang dimaksudkan itu? Arya Megatsari dan Temenggung Tatah Jiwa tidak dapat pula memberikan keputusan.
Oleh karena itu, dicobalah mengirimkan utusan ke semua pelosok, tetapi kebanyakan pulang dengan tangan hampa. Pada suatu hari, rombongan Singanegara (polisi) yang di dalam perjalanan memudiki sungai sampai di Tanggahulin, di pangkalan Arya Malingkun. Di sini mereka menemui seorang gadis yang sedang mandi di bawah pengawasan seorang pengawalnya. Ketika dia melihat rombongan Singanegara, ia terkejut dan berteriak “He, Dayang Diparaja, lekas! Itu datang rombongan Singanegara (polisi)”. Ketika rombongan Singanegara mendengar nama ini, mereka segera berdayung pulang kembali untuk memberi kabar pada Lembu Mangkurat. Singantaka dan Singapati, keduanya kepala dari barisan Singanegara (polisi). Mendapat perintah untuk meminta kepada Arya Malingkun, anaknya, guna dijadikan permaisuri raja. Mereka berangkat dengan empat puluh orang perempuan yang akan menjadi pengiring menuju ke Tanggahulin.
Arya Malingkun ternyata tidak sudi menyerahkan anaknya, walaupun sudah dijanjikan anaknya akan menjadi permaisuri, bukanlah untuk dijadikan dayang-dayang, penjogetan atau gundik. Dia tetap berkeras hati menolak. Utusanpun terpaksa pulang tanpa membawa hasil. Ketika Lembu Mangkurat yang mendengar perintahnya ditolak menjadi sangat marah dan mengambil keputusan untuk pergi sendiri ke Tanggahulin. Lembu Mangkurat berangkat dengan perahu yang memakai tanda kebesaran dengan diiringi oleh punggawa-punggawanya. Tidak berapa lama, tibalah dia di Tanggahulin. Ketika orang-orang di sana melihat kedatangan Lembu Mangkurat, orang-orang tersebut menjadi khawatir dan takut. Arya Malingkun datang dengan segera mengelu-elukan dan mempersilakan Lembu Mangkurat masuk ke dalam rumah. Dengan gusar dan marah Lembu Mangkurat berkata, apakah Arya Malingkun bersedia untuk menyerahkan anaknya atau tidak? Sekadar untuk menakut-nakuti anaknya, Lembu Mangkurat menikam tangannya dengan pedang. Arya Malingkun terkejut melihat Lembu Mangkurat sama sekali tidak terluka oleh senjata. Dengan agak ketakutan dia memerintahkan orang-orang segera menyuruh menjemput anaknya untuk diserahkan kepada Lembu Mangkurat. Setelah berhasil Lembu Mangkurat kembali bersama gadis tersebut untuk menghadap raja. Tetapi kemudian ternyata raja tidak mau kawin dengan Dayang Diparaja, karena yang diinginkan adalah anaknya. Sekarang timbul kesulitan yang harus dipecahkan. Siapakah yang harus mengawini gadis tersebut? Akhirnya semua sependapat dan setuju bahwa hanya Lembu Mangkuratlah yang pantas dan tepat untuk mengawini Dayang Diparaja. Perkawinan segera dilakukan. Perayaan perkawinan itu berlangsung selama tujuh hari lamanya.
Tidak berapa lama kemudian, Dayang Diparaja hamil. Walaupun telah cukup bulan dan harinya, dia belum juga melahirkan. Barulah sesudah lima belas bulan terasa menderita sakit selama tiga hari hendak bersalin. Dengan bermacam-macam cara dan syarat, dicoba untuk menjauhkan segala pengaruh jahat tetapi semuanya sia-sia belaka, bahkan Lembu Mangkurat sendiri telah putus asa. Tiba-tiba dari dalam kandungan ibu yang sakit itu terdengar suara: “Ooh ayah Lembu Mangkurat, tidaklah melalui jalan yang mudah anaknda akan lahir, tetapi ananda akan keluar dari sisi kiri ibunda”, bedahlah dan perbuatlah ini untuk anaknda”. Sejurus lamanya Lembu Mangkurat di dalam kebimbangan. Tetapi ternyata kewajibannya untuk mempersembahkan seorang permaisuri kepada raja adalah beban yang lebih berat lagi.
Lembu Mangkurat membedah sisi kiri perut Dayang Diparaja. Setelah dibedah, Dayang Diparaja meninggal sesudah berpesan supaya menjaga baik-baik anaknya. Seorang anak yang cantik lahir dengan perhiasan yang biasanya dipakai oleh gadis-gadis. Lembu Mangkurat memberikan perintah supaya menyusui anaknya yang diberi nama Putri Huripan. Tiga hari lamanya Putri Huripan tidak mau menyusu. Akhirnya dia sendiri mengatakan bahwa hanya akan minum air susu dari kerbau putih. Ayahnya, Lembu Mangkurat dengan segera memenuhi permintaan tersebut. Sejak itulah terjadi pantangan (tabu) bagi keturunannya untuk memakan daging kerbau putih.
Ketika Arya Malingkun dan istrinya mendengar kematian anaknya, Dayang Diparaja, merekapun mengambil keputusan untuk mengikuti jejak anak yang mereka dicintai tersebut. Sebelum meninggal dunia, Arya Malingkun memakan sirih dan pinang muda, sedangkan istrinya memakan sirih dan pinang tua. Mereka memerintahkan pesuruhnya untuk menanam sepah itu di dalam tanah. Dari sepah tersebut tumbuh jariangau dan pirawas yang akan berguna untuk obat cucunya Putri Huripan. Inilah asal mula jariangau dan pirawas tumbuh di Tanggahulin yang sejak saat itu disebut Huripan.
Ketika Putri Huripan sudah akil baligh, dia pun dipersembahkan kepada Raja Suryaganggawangsa sebagai calon permaisuri. Dengan segala upacara kebesaran, perkawinannya dirayakan. Sebagaimana lazimnya, kedua mempelai dimandikan di pancuran air (padudusan) dan kemudian diarak kembali ke istana. Beberapa lama kemudian, permaisuripun melahirkan seorang Putri bernama Putri Kalarang. Setelah Putri ini dewasa, dia dikawinkan dengan saudara raja, Pangeran Suryawangsa. Karena hanya Pangeran Suryawangsa sajalah yang layak untuk mengawininya.
Putri kalarang kemudian melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Carang Lalean. Raden Suryawangsa juga masih mendapat karunia seorang putri yang diberi nama Putri Kalungsu. Atas keinginan Raja Suryaganggawangsa, kedua anak ini, Raden Carang Lalean dan Putri Kalungsu dikawinkan. Pada waktu inilah Arya Megatsari dan Tumenggung Tatah Jiwa meninggal dunia.
Pada suatu hari, semua keluarga dan pegawai istana sedang berkumpul dan bersenang-senang, maharaja Suryaganggawangsa dan putri Huripan menerangkan bahwa mereka akan “kembali ke asal”. Kepada Lembu Mangkurat diamanatkan supaya Raden Carang lalean dan Putri Kalungsu diajarkan adat turun-temurun dari raja-raja terdahulu. Lembu Mangkurat mencoba supaya raja dan permaisuri memalingkan pikiran agar menunda “kembali ke asal”. Tetapi sebelum itu, keduanya telah “menghilang” dari pandangan semua mata yang hadir.
Atas perintah Lembu Mangkurat, dibangunlah sebuah mahligai dan padudusan. Dengan disertai tembakan meriam dan tabuhan gamelan, Raden Carang Lalean dan Putri Kalungsu dimandikan dengan segala upacara. Kemudian raja baru itu pun meletakkan mahkota di atas kepalanya. Di dalam peraturan negara tidak ada perubahan yang diadakan. Setiap hari Sabtu tetap diadakan kesempatan untuk menghadap raja. Tak lama kemudian permaisuri melahirkan seorang putra yang dinamai Raden Sekar Sungsang. Ketika putra raja itu berumur enam tahun, raja menerangkan akan “kembali ke asal”. Dia menyerahkan pemerintahan kepada Lembu Mangkurat, sementara putra raja belum dewasa. Kemudian raja pun lenyap dari pandangan mata hingga menimbulkan kesedihan seluruh rakyat dan keluarga istana.
Tidak lama sesudah itu, suatu waktu Putri Kalungsu membuat kue juadah. Raden Sekar Sungsang yang masih muda belia itu kadang-kadang mendekati ibunya untuk meminta makan. Karena juadah itu belum masak, ibunya menyuruh Raden Sekar Sungsang pergi dahulu. Tetapi akhirnya, Raden Sekar Sungsang tidak dapat lagi menahan selera nafsunya. Diambilnyalah sedikit kue juadah itu. Melihat hal ini, ibunya menjadi gusar. Dia kemudian memukul Raden Sekar Sungsang dengan sebuah sendok gangsa ke kepalanya.
Dengan kepala yang bercucuran darah, Raden Sekar Sungsang lari yang makin lama makin jauh. Akhirnya dia tidak diketahui siapa pun juga. Kemudian dia dilihat oleh seorang pedagang bernama Juragan Balaba yang datang ke Negara Dipa untuk berniaga. Juragan Balaba waktu itu telah menduga bahwa anak tersebut bukanlah anak yang biasa saja, karena dari tubuhnya mengeluarkan cahaya yang bersinar. Karena anak buah kapal ingin segera berangkat, Juragan Balaba pun memutuskan untuk segera berlayar membawa Raden Sekar Sungsang.
Tak lama kemudian permaisuri menitahkan mencari anaknya ke semua pelosok tapi sia-sia saja usahanya itu. Hanya ada beberapa orang saja yang menerangkan bahwa mereka melihat sebuah kapal berlayar dengan membawa seorang anak, tetapi mereka juga tidak dapat memastikan apakah anak itu Raden Sekar Sungsang yang sedang dicari? Walaupun kapal itu dikejar namun tak ketemu juga karena sudah menuju laut lepas. Lembu Mangkurat kemudian menitahkan menyiapkan empat buah kapal untuk pergi ke seberang lautan. Akhirnya kapal-kapal itu sampai di Surabaya. Di sinilah diadakan penyelidikan dimana-mana, tetapi tak seorang pun dapat memberikan penjelasan.
Setiap saat Lembu Mangkurat mengirim penyelidik-penyelidik tetapi jejak anak itu tetap tidak ditemukan juga. Raden Sekar Sungsang yang sementara itu bergelar Ki Mas Lelana, telah dianggap Juragan balaba dan istrinya sebagai anak kandung mereka sendiri. Ayah dan bundanya ini ingin segera dia beristri, tetapi Ki Mas Lelana sendiri belum mempunyai keinginan. Juga setelah ayah angkatnya itu meninggal, Ki Mas Lelana tetap tinggal di Surabaya.
Pada suatu hari dia menerangkan cita-citanya untuk pergi ke Negara Dipa bersama dengan Juragan Dampu Awang untuk berniaga. Mula-mula ibu angkat Ki Mas Lelana menahannya, tetapi karena Ki Mas Lelana sudah berketetapan hati untuk pergi, dengan perasaan sedih ibu angkatnya akhirnya mau melepas kepergiannya itu. Dengan segera mereka menyeberangi lautan. Tatkala mereka sampai di Negara Dipa, maka Dampu Awang dan Ki Mas Lelana mulai berniaga. Lembu Mangkurat juga ikut berbelanja pada Dampu Awang dan Ki Mas Lelana. Bahkan Lembu Mangkurat mengharap supaya Ki Mas Lelana tinggal di Negara Dipa sampai musim yang akan datang dan dia akan meyerahkan sebuah rumah dengan pekarangannya. Juragan Dampu Awang diperintahkan supaya memberitahukan hal ini kepada ibu angkat Ki Mas Lelana, bahwa dia akan kembali ke Jawa tahun depan.
Sementara itu Lembu Mangkurat mencoba menganjurkan Putri Kalungsu supaya kawin lagi. Dia mengabarkan bahwa seorang saudagar muda turunan dari Raja Majapahit, muda dan tampan sekarang sedang tinggal di rumahnya. Mula-mula permaisuri itu tidak mau, tetapi kemudian ia berubah pikiran dan meminta supaya orang asing itu datang menghadapnya pada hari Sabtu.
Dengan suatu upacara kebesaran, keesokan harinya Lembu Mangkurat yang berpakaian indah dan memakai tanda-tanda kebesaran menuju ke Sitiluhur. Begitu juga dengan Ki Mas Lelana. Ketika tiba di Sitiluhur, duduklah dia di belakang Lembu Mangkurat. Tatkala Putri Kalungsu memandang ke arah pemuda yang gagah itu, maka putri pun jadi jatuh cinta kepadanya. Tatkala Lembu Mangkurat meminta jawaban, Putri Kalungsu menyatakan persetujuannya untuk kawin.
Sebuah padudusan didirikan dalam tujuh hari lamanya. Perkawinan itu dilakukan dengan adat istiadat raja-raja yang terdahulu. Sebagaimana diketahui, Ki Mas Lalana adalah keturunan Raja Majapahit. Oleh karena tidak dilahirkan ke dunia melalui proses bertapa, dia tidak dapat menjadi seorang raja. Seandainya dari perkawinan itu lahir seorang putra, dialah yang akan menjadi raja, karena ibunya berasal dari raja yang lahir dari kekuatan gaib. Dengan demikian, untuk sementara waktu Lembu Mangkurat tetap menjadi wakil raja di Negara Dipa.
Ketika suatu hari Putri Kalungsu sedang membersihkan kepala suaminya, dia melihat tanda bekas luka dan menanyakan sebab-sebabnya. Mula-mula Ki Mas Lelana menerangkan bahwa ia sendiri pun tidak mengetahuinya. Tetapi ketika istrinya terus-menerus mendesak, akhirnya dia menceritakan bagaimana kisahnya ketika masih kecil. Pada suatu hari dia mendapat pukulan dikepala dari ibunya hingga luka, karena meminta berulang-ulang juadah yang sedang dengan ditanak sehingga membuat gusar hati ibunya.
Diceritakannya pula bahwa dia kemudian lari dan beberapa tahun tinggal di Jawa karena dibawa oleh Juragan Balaba. Selain itu dia tidak tahu apa-apa. Dengan terperanjat Putri Kalungsu menolak kepala suaminya dari pangkuannya. “Jika demikian engkau adalah anakku Sekar Sungsang” menjerit Putri Kalungsu. Ki Mas Lelana meniarap dengan menangis di kaki ibunya dan memohon ampun serta mengharap supaya membunuhnya.
Putri Kalungsu memanggil Lembu Mangkurat dan kepadanya diceritakan peristiwa yang mengejutkan itu. Lembu Mangkurat tidak mengambil suatu keputusan, mengharap supaya permaisuri sendiri harus memutuskan, apakah yang harus dibuat? Dengan ini permaisuri menetapkan bahwa mereka harus bercerai untuk selama-lamanya, dan permaisuri mengganti nama anaknya dengan Raden Sari Kaburungan.
Selanjutnya sejak itu Raden Sari Kaburungan dan ibunya, Putri Kalungsu mempunyai tempat tinggal yang terpisah. Kemudian Raden Sari Kaburungan dinobatkan menjadi raja.
Setahun kemudian raja memindahkan kedudukan negara ke Muara Hulak. Kedudukan baru itu disebut Negara Daha dan sampai sekarang ini tempat itu masih bernama Negara. Di Muara Bahan dibuat sebuah pangkalan (pelabuhan) yang kemudian ramai sekali didatangi para pedagang.
(Ras, Johanes Jacobus. 1990. Hikayat Banjar, Disertasi Leaden, Terjemahan oleh Siti Hawa Salleh. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia.)

Lagu - Lagu Banjar

Paris Barantai


Wayah pang sudah hari baganti musim
Wayah pang sudah



Kotabaru gunungnya Bamega
Bamega umbak manampur di sala karang
Umbak manampur di sala karang


Umbak manampur di sala karang



Batamu lawanlah adinda
Adinda iman di dada rasa malayang
Iman di dada rasa malayang

Iman di dada rasa malayang


Pisang silat tanamlah babaris
Babaris tabang pang bamban kuhalangakan
Tabang pang bamban kuhalangakan
Tabang pang bamban kuhalang akan



Bahalat gununglah babaris
Babaris hatiku dandam kusalangakan
Hatiku dandam kusalangakan

Hatiku dandam kusalangakan


Burung binti batiti di batang
Di batang si batang buluh kuning manggading
Si batang buluh kuning manggading
Si batang buluh kuning manggading



Malam tadi bamimpilah datang
Rasa datang rasa bapaluk lawan si ading
Rasa bapaluk lawan si ading

Rasa bapaluk lawan si ading


Kacilangan lampulah di kapal
Di kapal anak Walanda main kumidi
Anak Walanda main kumidi
Anak Walanda main kumidi



Kasiangan guringlah sabantal
Sabantal tangan ka dada hidung ka pipi
Tangan ka dada hidung ka pipi

Tangan ka dada hidung ka pipi


Ading Bastari

Lamah lambut jajantung panjang
Aduhai ading bastari
Bibir habang bakas manginang
Tanda ading nang baik budi

Ading sayang manang dialis
Aduhai bulan sahiris
Putih kuning maambun pupur
kada tatinggal gawi didapur

Adat asli jangan dibuang
Hilang akan ku pakai jua
paninggalan urang bahari
kada lupa sampai mati



Ampat Lima

Ampat si ampat lima ka ay
kuriding patah
patah sabilah, patah sabilah,
di higa lawang
Ampat si ampat lima ka ay
‘ku tanding sudah
kada manyama, kada manyama,
nang baju habang

Banyak urang nang maantar tapih
salambar-lambar kada bakain
Banyak sudah urang nang mamilih
Juduhnya kada ka lain

Ampat si ampat lima ka ay
kuriding patah
patah sabilah, patah sabilah,
di higa tajau

Ampat si ampat lima ka ay
‘ku tanding sudah
kada manyama, kada manyama,
nang baju hijau


Baras Kuning

yuu ka bulik pang satumat bulik pang satumat
Lawasnya ulun mahadang
pian maninggalakan
kampung halaman
kapapurunan

yuu ka bulik pag damini bulik pang damini
Ulun basakit hati
Pian nang ulun tangisi
Kada sakira diri ulun marista

Pian datang ulun sambut lawan mayang
Ulun hamburi baras si baras kuning
kur sumangat
Dimuhara lawang


SANGU BATULAK

Pisang Silat Pisang timbakul
Ku gangan akan bacampur cuka
Mun jadi tulak apa sanguku
Sahibar do'a Iman didada

Sembah sujud ampuni dosa
Kasih Satumat dalam dunia
Kilir Kiiliran sibanyu mata
Kampung nang jauh bakal ku tuju
Kampung nang jauh bakal ku tuju

Mulai lawan Bissmillah
Batis nang kanan ku langkah akan
Lalu Tawakal Alallah
Itu pang jadi sanguku

Sembah sujud ampuni dosa
Kasih Satumat dalam dunia
Kilir Kiiliran sibanyu mata
Kampung nang jauh bakal ku tuju

Amal wan iman sanguku

Ya... Allah Ya.... Allah

Minggu, 20 Februari 2011

Mutiara Yang Hilang

Senja yang gerimis, aroma dingin merasuki kulit. Langit yang slalu berlindung dibalik awan membuat matahari semakin pergi meninggalkan siang. Tiupan angin yang berhembus disela-sela pepohonan.  Dan Jalan-jalan yang dialiri air hujan. Tiba-tiba ada suara wanita paruh baya yang membuyarkan lamunan seorang yang berdiri di balkon rumah.
“riz, ngapain kamu duduk diteras, nanti kedinginan kamu sakit, ayo masuk kedalam!!!”
“nggak mah, aku mau disini aja melihat hujan.”
“o… ya sudah, jangan lama-lama diluarnya nanti kamu sakit.”
“iya mah.”
Gerimis yang tak kunjang reda, membuat  lamunan yang hilang kembali muncul. Bayang-bayang yang slalu ada bermain difikirannya. sosok yang dilihatnya ditoko buku sewaktu dia pulang kuliah.  Saat itu toko buku yang  tak seramai biasanya dia melihat seorang gadis berkerudung biru yang membuat hatinya berdesir, bukan karena kecantikan parasnya, tapi sesuatu yang tidak diketahuinya.  Berkali-kali  dia mencoba menghilangkan bayangan sosok itu berkali-kali juga sosok itu kembali lagi.
Malam itu, Suara music yang bervolume tinggi memecahkan kesunyian malam. Suara air dikamar mandi seperti banjir. Setelah itu seseorang keluar dari kamar mandi dan menghampiri handphone nya yang berdering. Sembari membaca sms yang diterimanya dari seorang temannya yang mengajaknya jalan-jalan. Beberapa saat setelah dia memakai pakaian rapi lalu menuju meja makan. Seperti biasa yang makan dirumah itu hanyalah sendiri. Dan terdengar suara wanita yang menjadi pembantu dirumah itu.
“ Rizky tadi ibu bilang katanya ada keperluan diluar kota, dan akan pulang beberapa hari lagi, baru saja berangkat 15 menit yang lalu.”
“ iya bi, tolong bikinin jus dong!!!”
Seperti biasa dia hanya cuek mengetahui mamahnya pergi, yang penting baginya kebutuhannya terpenuhi. Namun jauh dalam hatinya dia sangat memerlukan sosok orang tua. Beberapa saat kemudian meja makan itu kosong dan dia langsung mengambil jaket dan helm nya, seketika itu juga dia langsung menyusuri jalanan komplek dan jalan raya dengan kecepatan tinggi. Lampu-lampu yang bertebaran disepanjang jalan membuat malam itu semakin berwarna. Dinginnya malam tak menghalaginya untuk menyusuri jalan, untuk berkumpul dengan teman-temanya.
 Sesampainya  disebuah kafe Rizky langsung memarkir motornya. Dan langsung masuk kedalam dan menemui teman-temannya yang telah berkumpul. Rizky memang sering menghabiskan malamnya dengan teman-temannya, karena dia selalu kesepian dirumah. Apalagi setelah dia putus dari Nadia, cerita yang telah dirajut lama yang terputus karena masalah kecil yang menjadi besar. Hal itu membuat nya semakin kesepian dan makin terlarut dalam dunia malam.
Setelah berjam-jam mereka bercanda dan makan-makan cemilan dikafe itu, kumpulan anak  muda itu berpindah tempat ke sebuah tempat hiburan malam. Jalan-jalan seperti milik mereka, dengan seenaknya mereka mengendarai motor mereka. Memang pada saat itu ada yang beda Rizky tidak membonceng  seorang wanita seperti biasanya. Dan beberapa saat kemudian mereka sampai di sebuah tempat hiburan malam.
Tak terasa malam semakin larut dan mereka pun dalam keadaan setengah sadar. Dengan mata yang tidak begitu jelas melihat jam tangan nya ternyata waktu sudah menunjuk kan jam 3 pagi. Rizky pun segera meninggalkan tempat hiburan itu, dan mengendarai  motornya dengan kecepatan tinggi. Walaupun tidak terkendali dalam mengendalikan motornya, namun ternyata sampai juga dengan selamat. Dengan seperti orang gila dia menggedor pintu rumahnya dan membuat pembantu rumahnya terbangun. Dan dengan terjatuh beberapa kali dia menuju kamarnya.
Saat terlelap dia masuk dalam sebuah mimpi, dan masuk kesebuah desa yang dipenuhi hutan setelah dia memasuki hutan yang penuh rintangan dia lalu keluar dari sisi lain hutan itu dan melihat  sungai yang mengalir dan jernih. dia melihat sosok perempuan yang memberikan anak bayinya kepada perempuan lain. Dengan air mata yang mengalir. Lalu dia tenggelam kedalam sungai.
Sinar matahari pagi menyinari  kamar  melalui sela-sela gorden kamar itu, yang didalamnya masih tertidur seorang laki-laki. Dering handphone nya membangun kan laki-laki itu. Dan dia membuka sms dari temannya yang mengingatkan nya bahwa ada jam kuliah hari itu. Beberapa lamanya dia termenung sebelum melepaskan diri dari tempat tidur. Masih terpikir dalam benaknya mimpi yang menghampirinya dini hari itu. Dan dia merasa tidak asing dengan sosok perempuan yang memberikan bayi kepada perempuan lain itu. Setelah beberapa saat dia termenung , lalu dengan cepat dia langsung  mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Sambil mandi dia masih teringat dengan mimpi yang dialaminya tadi malam.
Setelah selesai mandi dia langsung berpakaian seadanya dan membereskan berkas kuliahnya kedalam tas nya, setelah merasa tidak ada yang ketinggalan dia pun keluar dari kamarnya, lalu ada suara dari dapurnya. “Rizky sarapannya sudah siap”. Dan dia pun langsung menuju meja makan dan dengan tergesa-gesa menghabiskan sarapannya, karena hari itu dia bangun kesiangan lagi. Setelah menghabiskan nasi goreng dan jusnya, dia lalu menghampiri mobilnya yang telah bersih.  Lalu membawanya melaju jalan raya, dan untungnya pada hari itu dia tidak terjebak macet.
Sesampainya diparkiran kampus, dia bertemu dengan Rio temannya. Dan memarkir mobil bersebelahan. Mereka bersandar dimobilnya dan berbincang-bincang sebentar. Beberapa saat kemudian  mereka berdua menuju ruangan dan sekitar beberapa menit mereka berada dalam ruangan kuliah dosen nya pun masuk. Saat dosen memberikan materi entah kenapa pikiran Rizky slalu melayang kemana-mana dan merasa waktu berjalan lambat dan ruangan terasa membosankan. Hingga saat jam kuliah berakhir dia langsung berfikir untuk pulang.
Namun, saat dia mau membuka mobilnya, ada suara Rio yang memanggil-manggilnya, dan member tahukan bahwa mereka berdua  dipanggil Pak Muammar, dan diperintahkan untuk meenemuinya diruangannya. Dengan setengah malas Rizky pun ikut dengan Rio ke ruangan Pak Muammar. Setelah Sampai diruangan pak Muammar, mereka berdua mengetuk pintu dan mengucapkan permisi. Lalu Pak Muammar mempersilahkan mereka duduk di sofa.
Beberapa saat hening suasana ruangan itu, mereka berdua masih bingung mengapa dipanggil keruangan itu. Sementara Pak Muammar masih berdiri didepan lemari, dan membuka-buka map yang berisi berkas-berkas data mahasiswa. Setelah hening yang membosankan lalu Pak Muammar pun membuka pembicaraan.
“Kalian tau mengapa kalian dipanggil kesini??”
Dengan menggelengkan kepala meraka berdua kompak menjawab,
“Tidak tau Pak.”
“Kalian itu dipanggil kesini karena ada pembagian tugas bagi mahasiswa, dan kalian berdua mendapat tugas untuk penelitian tentang potensi alam diwilayah desa Jambu Merah di Jawa Barat.”
“wahh….  Jauh banget Pak tempatnya, sejak kapan kami mulai kesana pak”
“Kalian ketempat itu mulai hari Rabu minggu depan, dan kalian berdua disana sekitar satu bulan. Jadi Persiapkan lah segala sesuatunya mulai dari hari ini”
“Baiklah Pak, kami berdua permisi dulu. Selamat siang Pak.”
“Selamat siang”
Setelah  mendengar tugas yang diberikan Pak Muammar, ada sesuatu yang berdesir didalam perasaan Rizky, entah apakah itu, dia sendiri pun tak tau. Sepulang dari kampus Rizky mampir dulu disebuah kafe untuk menenangkan diri, dan menikmati secangkir minuman mocca. Setelah beberapa lama dikafe dia pun pulang dan menyusuri jalan sambil mendengarkan  house music, dimobilnya.  Meskipun sempat terjebak macet beberapa menit , tapi akhirnya dia sampai juga kerumahnya. Dengan rasa letih Rizky langsung menuju kamarnya dan  melepaskan diri ketempat tidur. Lalu tertidur  hingga sore hari.
Tidak terasa hari-hari berlalu,Rizky dan Rio harus melaksanakan tugas dari Pak Muammar.  Dan mereka memulai perjalanan jam 10 pagi dari kampus mereka, setelah diberikan pengarahan oleh Pak Muammar.  Disepanjang perjalanan mereka hanya bercanda dan ditemani house music, dengan camilan kacang dan keripik.  Sekitar 5 jam perjalanan mereka sampai ke desa Jambu Merah pada saat memasuki wilayah desa Jambu Merah Rizky tiba-tiba menghentikan laju mobilnya. Dan Rio pun bingung dengan kejadian itu. Rizky hanya terdiam saja. Saat itu dia melihat gadis berkerudung biru yang dia lihat disebuah toko buku.  Yang saat itu melintas didepannya dengan menggunakan motor matic dan berpakaian jubah hijau dengan kerudung putih. Karena Rio Merasa kebingungan dengan sikap Rizky, dia pun membuka mulutnya.
“Riz, kenapa sih kok loe tiba-tiba berhenti. Lagi pusing ya??”
“nggak apa-apa kok. Iya nih pusing kepala gw.”
“Sini deh, biar gw aj yang bawa mobilnya, loe tiduran aja.”
“oke deh. Thanks sob.”
Selama Sisa perjalanan Rizky mencoba memejamkan mata, namun bayangan gadis yang dulu muncul kini mulai bermain lagi didalam fikirannya. Entah mengapa hatinya berdesir  saat melihat gadis itu. Dan dia merasa mengenal  gadis itu.
Akhirnya … mereka berdua pun sampai didesa Jambu Merah mereka menuju balai desa dan disambut oleh Lurah dan warga masyarakat tersebut. Setelah itu mereka berdua berbincang-bincang tentang tugas mereka dan tujuan mereka datang kedesa itu. Yang sudah diberi tahukan oleh Pak Muammar kepada Lurah desa tersebut. Tiba-tiba pak lurah pun memanggil seorang wanita paruh baya dan memintanya mengeluarkan kue dan minuman kepada dua tamu mereka. Lalu wanita itu pun berkata.
“Anu Pak Lurah, tadi kuenya lagi dibelikan non Zahra, kepasar”
“Apa Zahranya belum datang juga??”
“Nah itu dia Zahra sudah datang Pak Lurah, sebentar disiapkan dulu kuenya”
“iya, ayo cepat tamunya sudah lama disini.”
Lalu dengan cepatnya Rio langsung berkata kepada Pak Lurah. “Tidak Usah Repot-repot pak kami sudah kenyang kok.” ……. Padahal perutnya Rio merasa lapar. Lalu Rizky pun berbisik pada Rio. “nggak usah sok sopan deh loe. Sebenernya loe pasti laper kan, Cuma jaga sikap aja didepan pak lurah. Hehe”
Lalu Pak lurah Pun berkata “Tidak apa-apa nak kalian kan sudah jauh-jauh datang kesini, nah.. itu dia Zahra datang membawa makanan”
 Saat itu juga Rizky langsung terdiam, karena saat itu dia melihat gadis yang menjadi misteri dalam kehidupannya akhir-akhir ini. setelah itu Pak Lurah dan mereka berdua memakan kue dan meminum teh. Sambil makan Pak Lurah lebih banyak berbincang dengan Rio. Karena pikiran Rizky yang terbang dihinggapi bayangan gadis itu, dalam rasa kebingungan.
Setelah itu mereka diperkenalkan dengan Yusuf anak kiyai Khalid pemilik Pondok Pesantren Al - Furqon Dan mereka berdua akan tinggal dirumah pak kiyai Khalid selama didesa itu. Dan setelah itu mereka berpamitan dengan Pak Lurah lalu menuju rumah yusuf.
Pada sore itu, sehabis mandi dengan air yang segar dan jernih, Yusup mengajak Rio dan Rizky jalan-jalan mengelilingi desa. Dengan berjalan kaki menyusuri pinggiran sungai dan sawah yang luas. Mereka berdua pun mulai berkenelan dengan warga setempat dan mulai merencanakan berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan.
Malam yang sunyi dan dingin . Malam itu mereka dikenalkan dengan kiyai Khalid dan para santri dipondok itu. Setelah para jamaah bubar dan kiyai Khalid ada urusan, Rio dan Rizky duduk diteras mesjid. Lalu Rio membuka pembicaraan dengan Rizky.
“Eh… Riz kita disini lama-lama jadi orang alim deh, hehe…… Untung aja gw masih inget cara sholat”
“iya ya… kan kita jarang sholat, disini kan pesantren jadi masa sih kita seperti biasa, beradaptasi donk”
“o..ya biasanya kan kita jam segini pada nongkrong trus clubbing. Kalo disini ngantuk gw, sepi amat ni tempat. Ya udah gw tidur dulu ya”
“Tidur aja loe sana, gw masih mau liat bintang disini, kan jarang bisa liat bintang”
Beberapa saat setelah Rio pergi, yusuf datang menghampiri Rizky. Lalu dengan penuh rasa penasaran Rizky menanyakan tentang wanita yang menjadi misteri akhir-akhir ini dalam hidupnya, yang dipanggil Zahra oleh Pak Lurah. Dan ternyata dari cerita yusuf, gadis itu bernama Zahratu Shita, yang merupakan anak pertama kiyai Khalid atau kakak Yusuf. Yang baru lulus ponpes Darul Qur’an dan mengajar diponpes milik Kiyai Khalid.
Waktu pun berlalu dan dua mahasiswa itu telah melaksanakan berbagai kegiatan didesa itu. Dan Rizky pun sudah mengenal Zahra dan keluarga ponpes Al – Furqon serta masyarakat desa itu pun akrab dengan mereka. 
Hingga suatu malam Rio,Rizky dan Yusuf dalam perjalanan pulang dari Bogor, menggunakan mobil Rizky, menuju desa Jambu Merah. Mereka menerima tugas yang diperintahkan Pak Lurah. Sepanjang perjalanan pulang Rizky dan Rio bergantian mengendarai mobil. Saat itu suasana memang sangat mengantuk dan mereka bertiga sudah sangat kelelahan. Meskipun jam baru menunjukkan pukul  22:30. Saat itu Rio dan Yusuf duduk dikursi belakang dan mulai ketiduran, sedangkan  Rizky yang juga dalam keadaan mengantuk mengendarai mobil. Hingga kejadian tak terduga pun terjadi. Mobil yang ditumpangi mereka bertiga menabrak pengendara motor dari arah berlawanan. Rizky yang langsung mengerem mobil dengan mendadak membuat mobil terpental dan saat itu Rizky dan Rio tak sadarkan diri dan penuh luka. Sementara Yusuf  yang masih sadar dan hanya luka ringan menelpon ayahnya agar meminta pertolongan warga. Dan yang membuat Yusuf kaget adalah ternyata pengendara motor yang mereka tabrak adalah Zahra kakaknya sendiri.
Saat itu Zahra yang ingin keterminal menjemput  temannya yang baru sampai dan ingin menginap diponpes kiyai Khalid. Sekitar beberapa menit kemudian kiyai Khalid dan rombongan warga datang membawa mobil Pak Lurah dan Membawa korban kecelakaan ke Rumah Sakit Amanah, karena itu Rumah Sakit terdekat.  Pada saat itu juga Yusuf membuka handphone Rio dan Rizky untuk mencari nomor handphone orang tua mereka, lalu menghubunginya.
 Pada saat itu Mama Rizky Baru pulang kerumah. Dan langsung kaget menerima telpon yang mengabarkan bahwa Rio dan Rizky kecelakaan. Dan saat itu juga Mama Rizky langsung menuju RS Amanah. Hampir subuh Mama Rizky baru sampai ke Rumah Sakit itu.
Sementara itu Rizky dan Rio sudah sadar karna merasa bersalah Rizky langsung meminta maaf kepada Rio dan Yusuf atas kejadian itu. Rizky yang saat itu masih penuh perban dan memakai infus, langsung minta antar Yusuf Keruangan Zahra dirawat menggunakan kursi roda. Dan ternyata Zahra belum sadar. Pada saat itu lah Rizky menangis penuh sesal dan maaf kepada Zahra. Namun kiyai Khalid Berusaha menenangkannya dan mengatakan bahwa itu sudah menjadi takdir allah.
Saat itu bukan hanya Rasa maaf yang dirasakan Rizky namun juga perasaan yang baru disadarinya, bahwa dia mencintai Zahra dan takut kehilangannya. Namun dia sadar kehidupannya berbeda dengan Zahra, dia merupakan orang yang suka clubbing sebelum tinggal diponpes, sedangkan Zahra merupakan gadis baik-baik, anak kiyai. Namun didalam hatinya yang terdalam dia akan berubah menjadi lebih baik dan belajar mendalami ilmu agama. Bahkan dia berniat untuk tinggal diponpes, karena kuliahnya yang hampir selesai. Saat itu memecah keheningan Mama Rizky datang dan memeluk anaknya.
Namun… Semua berubah tegang dan mengharukan ketika Mama Zahra masuk ruangan itu, Mama Rizky dan Mama Zahra saling tercengang dan spontan Mama Rizky menyebut “Raihana???”. Yang merupakan nama mama Zahra, yang kemudian membalas dengan kata, “ka..ka..kamu Nayla??”.
Dan mereka berdua pun saling berpelukan. Semua orang diruangan itu penuh dengan tanda Tanya…
Dan pada saat itu Zahra sadar, lalu semua  yang berada diruangan itu mengucapkan “Alhamdulillah”.
Dan pada saat itu orang-orang bertanya tentang apa hubungan antara Bu Raihana dan Bu Nayla, yang sepertinya sudah sangat mengenal. Dan Bu Nayla pun meminta agar semua yang ada dalam ruangan itu tenang, terutama Zahra dan Rizky. Lalu Bu Nayla Pun mulai bercerita. Dahulu pada saat SMA, Bu Nayla dan Bu Raihana adalah sahabat yang tak terpisahkan sejak SMP. 
Dan Pada saat lulus sekolahBu Raihana menikah dengan seorang pemuda lulusan Pondok Pesantren Gontor  yang bernama Khalid. Sedangkan Bu Nayla memili kuliah dan saat itu berpacaran dengan seorang lelaki, yang kemuadian Bu Nayla hamil diluar nikah, sedangkan pemuda itu tidak mau bertanggung jawab. Lalu untuk menyembunyikan aib, setelah melahirkan seorang anak perempuan, anak itu diberikan kepada Bu Rihana. Yang saat itu belum dikaruniai anak setelah menikah beberapa tahun. Dan kemudian Bu Nayla pergi Ke luar negri untuk melanjutkan kuliahnya, kemudian menikah dengan taman kampusnya  dari kalimantan yang menjadi ayahnya Rizky.
Lalu dengan spontan Zahra memanggil Bu Nayla lalu menyebutnya Mama. Dan Bu Nayla pun memeluk Zahra penuh rasa bahagia. Dan Bu Raihana sambil menangis berkata kepada Bu Nayla.
“Nay… apa kamu akan mengambil anak mu kembali??? Aku sudah sangat menyayanginya seperti anak ku sendiri.”
“Tidak ray… aku akan tetap membiarkan nya tinggal bersamamu, aku hanya ingin member tahu identitas sebenarnya agar dia jelas, karna dia anak perempuan harus tau siapa orang tua kandungnya.”
Dan pada saat itu Azan subuh pun berkumandang. Dan semua yang ada diruangan itu menuju musola rumah sakit. Sementara Rizky diantar keruangan kamarnya, karna kakinya masih patah tulang.
Dengan hati yang campur aduk, Rizky yang baru menyadari rasa cintanya itu, dia langsung merasakan hati yang remuk dan galau. Karena mengetahui orang yang dia cintai adalah kakaknya sendiri yang berjarak satu tahun dengan nya.




Cerpen Ini sudah Lama q buat, tapi setiap kali membuat cerpen dan puisi aku sering tidak Percaya Diri mempublikasikannya...... masih banyak cerpen dan puisi yang hanya ku simpan dinotebook ku,
ku coba satu per satu memposting nya ke BLOG ku ini.
Ku Mohon Bila ada yang baca cerpen  ku ini. kasih koment ya. biar ku tau kekurangan dari tulisan ku,

Cara dan Trik BERHITUNG Cepat

Masih inget pelajaran Matematika? Banyak Orang bilang, pelajaran matematika adalah pelajaran yang paling sulit semasa masih di bangku sekolah.
saat ini saya sudah bersekolah Dikelas XI Ipa di Madrasah Aliyah 
dan menurut saya menghitung adalah Dasar dari berbagai mata pelajaran dalam sekolah..

Tapi coba perhatikan
 trik ini. Namanya "math magic". ketika saya pulang dari mengajar less matematika. Saya coba2 browsing tentang hitungan. kemudian saya ketemu sebuah metode hitung. Setelah saya coba dan saya pahami. ternyata caranya mudah banget untuk berhituung.
dan saya coba susun diblog ini
Saya pikir, berguna banget buat dikasih tau keteman-teman semua, semoga teman - teman juga bisa lebih cepat menghitungnya....

Ok ayo kita mulai...


Perkalian 9, 99, atau 999
Mengalikan dengan 9 sebenarnya adalah mengalikan dengan 10-1.
Jadi, 9×9 sama saja dengan 9 x (10-1) = 9×10-9 = 90-9 = 81.

Ayo coba contoh yang lebih sulit:
46×9 = 46× (10-1) = 460-46 = 414.

Satu contoh lagi:
68×9 = 680-68 = 612.

Untuk perkalian 99, artinya kita mengalikan dengan 100-1.
Jadi, 46×99 = 46 x (100-1) = 4600-46 = 4554.

Kalo udah gitu, kalian semua pasti tahu bahwa perkalian 999 sama dengan perkalian 1000-1
38×999 = 38 x (1000-1) = 38000-38 = 37962.

Masih bisa ngikuti? ayo kita lanjut


Perkalian 11
Perkalian 11 artinya kita menjumlahkan sepasang angka, kecuali bagi angka yang ada di bagian ujung. Lebih jelasnya gw jelasin di bawah ini :

Untuk perkalian 436 dengan 11 mulailah dari kanan ke kiri (selalu dari kanan ke kiri ya...)
Pertama tulis 6 lalu jumlahkan 6 dengan angka di sebelahnya yaitu 3 sehingga didapatkan angka 9.
Tuliskan 9 disebelah kiri 6.
Lalu jumlahkan 3 dengan 4 untuk mendapat angka 7. Tuliskan angka 7.
Terakhir tuliskan angka yang paling kiri yaitu 4.
Jadi, 436×11 = 4796.

Ayo kita buat contoh yang lebih sulit:
3254×11.
(3)(3+2)(2+5)(5+4)(4) = 35794.
Ingat selalu mulai dari kanan ke kiri yak!

Sekarang contoh yang lebih sulit lagi:
4657×11.
(4)(4+6)(6+5)(5+7)(7).

Mulai dari kanan tuliskan angka 7.
Lalu 5+7=12.
Tuliskan 2 dan simpan angka 1.
6+5 = 11, tambah 1 yang tadi kita simpan = 12.
Sekali lagi tuliskan 2 dan simpan 1.
4+6 = 10, tambah 1 yang tadi kita simpan = 11.
So, tuliskan 1 dan simpan 1.
Terakhir angka paling kiri, 4, tambahkan dengan 1 yang tadi kita simpan.
Jadilah, 4657×11 = 51227 .

Hehehe, mantepkan? ini masih ga terlalu sulit...ayo jalan lagi


Perkalian 5, 25, or 125
Perkalian dengan 5 sama saja mengalikan dengan 10 lalu di bagi 2. Sebagai catatan, untuk perkalian dengan 10 cukup tambahkan 0 di dibagian belakang angka

Contoh :
1000 x 5 = 5000
Lagi, 12×5 = (12×10)/2 = 120/2 = 60.

Contoh yang lain:
64×5 = 640/2 = 320.

Juga, 4286×5 = 42860/2 = 21430.

Untuk perkalian 25, sama saja kita kalikan dengan 100 (tambahkan dua angka 0 di bagian belakang) kemudian di bagi dengan 4. CATATAN : Untuk pembagian dengan 4, kita bisa juga membagi dengan 2 sebanyak dua kali

64×25 = 6400/4 = 3200/2 = 1600.

58×25 = 5800/4 = 2900/2 = 1450.

Untuk perkalian 125, sama saja kita kalikan dengan 1000 (tambahkan tiga angka 0 di bagian belakang) kemudian di bagi dengan 8. CATATAN : Untuk pembagian dengan 8, kita bisa juga membagi dengan 2 sebanyak tiga kali

32×125 = 32000/8 = 16000/4 = 8000/2 = 4000.

48×125 = 48000/8 = 24000/4 = 12000/2 = 6000.

Mudah kan? hehehe melangkah lagi!


Mengalikan dua bilangan yang mempunyai selisih 2, 4, atau 6
Untuk perkalian seperti ini gw langsung kasi contoh ya

Ambil contoh : 12×14. (14 - 12 = 2...jadi metode ini bisa dipakai)

Pertama kita cari angka tengah antara 12 dan 14...So,

12

13

14

(artinya 13 adalah angka tengah), berikutnya kita tinggal membuat perkalian 13 x 13 lalu di kurangi 1...

12×14 = (13×13)-1 = 168.

16×18 = (17×17)-1 = 288.

99×101 = (100×100)-1 = 10000-1 = 9999

Jika selisih dua bilangan tersebut adalah 4, sama seperti tadi kita cari angka tengahnya...buat pemangkatan, lalu kurangi dengan 4,
Ok ini contohnya :

11×15 = (13×13)-4 = 169-4 = 165.

13×17 = (15×15)-4 = 225-4 = 221.

Jika selisih dua bilangan tersebut adalah 6, sama seperti tadi kita cari angka tengahnya...buat pemangkatan, lalu kurangi dengan 9,
Ok ini contohnya :

12×18 = (15×15)-9 = 216.

17×23 = (20×20)-9 = 391.

Hehehe...trik ini bisa di pakai bukan hanya untuk belasan tapi bisa sampai ribuan...


Pemangkatan bilangan puluhan yang berakhiran 5
Untuk yang ini bener2 gampang kok..
Contoh kita mau ngitung berapakah 35 x 35
Kita tinggal mengalikan 3 x 4 = 12 (angka 4 di dapat dari 3 tambah 1)
Kemudian 5 x 5 = 25
Jadi 35 x 35 = 1225

Mudahkan?
Contoh lagi : 65 x 65
Kalikan 6 x 7 = 42 (angka 7 di dapat dari 6 tambah 1)
Kemudian 5 x 5 = 25
Jadi 65 x 65 = 4225

Dari situ kita tahu bahwa pemangkatan bilangan puluhan berakhiran 5 pasti angka belakangnya 25
So, 85 x 85 = 7225 (tahukan dari mana dapetinnya?)


Perkalian puluhan dimana digit pertama adalah sama dan jumlah digit kedua adalah 10
Contohnya kita ingin mengalikan 42 x 48...
Disini terlihat bahwa digit pertama puluhan di atas adalah sama yaitu 4
sedangkan jumlah dari digit kedua adalah 2 + 8 = 10

Cara cepatnya sederhana saja :
Kita kalikan 4 dengan 4+1 Jadi gini hasilnya 4 x (4+1) = 4 x 5 = 20
Tuliskan angka 20

Lanjut lagi kalikan 2 dengan 8 Jadi gini hasilnya 2 x 8 = 16
Tuliskan angka 16
Jadilah 42 x 48 = 2016

Gampang kan? contoh lagi
64 x 66
Kita buat
6 x (6+1) = 6 x 7 = 42
6 x 4 = 24
Hasilnya
64 x 66 = 4224

Masih bingung?
Contoh lagi :
83 x 87
Rumusnya...
8 x (8+1) = 8 x 9 = 72
3 x 7 = 21
Hasilnya
83 x 87 = 7221

Ok ? Hehehehe... ajarkan ini ke putra putri anda
Nah untuk yang berikut ini agak sedikit rumit...tapi kalo disimak bisa kok bro


Pemangkatan Puluhan
Ini perlu sedikit konsentrasi. Ambil contoh kita ingin melakukan pemangkatan 58 alias 58 x 58

Langkah 1 :
Kalikan 5 dengan 5, 5 x 5 = 25
Kalikan 8 dengan 8, 8 x 8 = 64
Tuliskan ke dua hasil tadi dan jadilah 2564

Langkah 2 :
Kalikan 5 dengan 8 = 40
Gandakan hasil tersebut, 40 x 2 = 80
Tambahkan 1 angka 0, jadilah 800

Langkah 3 :
Jumlahkan 2564 dengan 800, 2564 + 800 = 3364
Itulah hasilnya 58 x 58 = 3364

Hehehe....masih bingung?
yuk contoh lagi yuk
32 x 32

Langkah 1 :
3 x 3 = 9 ----> tapi tuliskan 09 ya supaya 2 digit bisa tercipta
2 x 4 = 4 ----> tapi tuliskan 04 ya supaya 2 digit bisa tercipta
Kedua hasil di tulis menjai 0904

Langkah 2 :
3 x 2 = 6 GANDAKAN 6 x 2 = 12
Tambahkan satu 0 dibelakangnya dan jadilah 120

Langkah 3 :
120 + 0904 ----> artinya 120 + 904 = 1024
Itulah hasilnya 32 x 32 = 1024

Mantep kan?
Mau coba lagi?
Boleh!

67 x 67
6 x 6 = 36
7 x 7 = 49
Jadi, 3649

6 x 7 x 2 = 84 tambah satu 0 jadi 840

3649 + 840 = 4489

Sehingga 67 x 67 = 4489


Kalikan dengan 2, bagi dengan 2
Kalau anak2 kita mengalami kesulitan pengalian yang besar kita bisa ajarkan ke mereka untuk membagi dengan 2 dan mengalikan dengan 2

Ini contohnya : kita ingin mengalikan 14 x 16
Maka yang kita lakukan adalah...kalikan salah satu (antara 14 atau 16) dengan 2, dan bagikan salah satu (14 atau 16) dengan 2, hingga kita mendapatkan perkalian yang mudah
14×16 = 28×8 = 56×4 = 112×2 = 224.

Contoh lain: 12×15 = 6×30 = 180
48×17 = 24×34 = 12×68 = 6×136 = 3×272 = 816.

Pada dasarnya lebih mudah menghitung 6 x 30 dari pada 12 x 15 kan?
Lebih mudah menghitung 122 x 2 dari pada 14 x 16
Setuju?
Contoh yang sangat mudah tapi bermanfaat


Ada lagi ini teman - teman 
Cara berhitung cepat matematika untuk contoh perhitungan Kuadrad pangkat 2
Ayo... Dicoba dehh menghitungnya...
542 = 2916
29 kita peroleh dari 25 + 4
16 kita peroleh dari 42 
562 = 3136
31 kita peroleh dari 25 + 6
36 kita peroleh dari 62 
572 = 3249
32 kita peroleh dari 25 + 7
49 kita peroleh dari 72
________________________
a3 + b3 = (a + b)3 – 3ab(a + b) ………………………………..(1)
___________________________
a3 – b3 = (a – b)3 + 3ab(a – b)……………………………….(2)
________________________________
982=>9604
Caranya : 96-------98-------100
-          Kelipatan terdekat dari 98 adalah 100
-          Jarak antara keduanya adalah 2 maka 98 di kurangi dua = 96
-          96 dikalikan 100 = 9600
-          Jarak dari 98 ke 100 dan 98 ke 96 dikalikan (2x2/ 22)hasilnya ditambahkan adalah 4
-          9600 +4 = 9604
132 => 169
Caranya : 16-------13-------10
-          Kelipatan terdekat dari 13 adalah 10
-          Jarak antara keduanya adalah 3 maka 13 di tambah  3 = 16
-          16 dikalikan 10 = 160
-          Jarak dari 13 ke 10 dan 13 ke 16 dikalikan (3x3/ 32)hasilnya ditambahkan adalah 9
-          160+9 = 169
_______________________________________
1+3+5+7+9+11+13 = 49
Syaratnya harus bil. Ganjil dan urut
__________________________
752=5625
Caranya:
-          7 dikali bil. Diatasnya (7x8=56)
-          5x5 = 25
-          5625
_________________________________


Ini dulu yang Bisa Saya Bagi Buat teman - teman semua....
BERHITUNG ITU MENGASYIK KAN 
Ayo... katakan I LOVE MATH............