Tampilkan postingan dengan label Poetry And Narrative. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poetry And Narrative. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Februari 2011

Mutiara Yang Hilang

Senja yang gerimis, aroma dingin merasuki kulit. Langit yang slalu berlindung dibalik awan membuat matahari semakin pergi meninggalkan siang. Tiupan angin yang berhembus disela-sela pepohonan.  Dan Jalan-jalan yang dialiri air hujan. Tiba-tiba ada suara wanita paruh baya yang membuyarkan lamunan seorang yang berdiri di balkon rumah.
“riz, ngapain kamu duduk diteras, nanti kedinginan kamu sakit, ayo masuk kedalam!!!”
“nggak mah, aku mau disini aja melihat hujan.”
“o… ya sudah, jangan lama-lama diluarnya nanti kamu sakit.”
“iya mah.”
Gerimis yang tak kunjang reda, membuat  lamunan yang hilang kembali muncul. Bayang-bayang yang slalu ada bermain difikirannya. sosok yang dilihatnya ditoko buku sewaktu dia pulang kuliah.  Saat itu toko buku yang  tak seramai biasanya dia melihat seorang gadis berkerudung biru yang membuat hatinya berdesir, bukan karena kecantikan parasnya, tapi sesuatu yang tidak diketahuinya.  Berkali-kali  dia mencoba menghilangkan bayangan sosok itu berkali-kali juga sosok itu kembali lagi.
Malam itu, Suara music yang bervolume tinggi memecahkan kesunyian malam. Suara air dikamar mandi seperti banjir. Setelah itu seseorang keluar dari kamar mandi dan menghampiri handphone nya yang berdering. Sembari membaca sms yang diterimanya dari seorang temannya yang mengajaknya jalan-jalan. Beberapa saat setelah dia memakai pakaian rapi lalu menuju meja makan. Seperti biasa yang makan dirumah itu hanyalah sendiri. Dan terdengar suara wanita yang menjadi pembantu dirumah itu.
“ Rizky tadi ibu bilang katanya ada keperluan diluar kota, dan akan pulang beberapa hari lagi, baru saja berangkat 15 menit yang lalu.”
“ iya bi, tolong bikinin jus dong!!!”
Seperti biasa dia hanya cuek mengetahui mamahnya pergi, yang penting baginya kebutuhannya terpenuhi. Namun jauh dalam hatinya dia sangat memerlukan sosok orang tua. Beberapa saat kemudian meja makan itu kosong dan dia langsung mengambil jaket dan helm nya, seketika itu juga dia langsung menyusuri jalanan komplek dan jalan raya dengan kecepatan tinggi. Lampu-lampu yang bertebaran disepanjang jalan membuat malam itu semakin berwarna. Dinginnya malam tak menghalaginya untuk menyusuri jalan, untuk berkumpul dengan teman-temanya.
 Sesampainya  disebuah kafe Rizky langsung memarkir motornya. Dan langsung masuk kedalam dan menemui teman-temannya yang telah berkumpul. Rizky memang sering menghabiskan malamnya dengan teman-temannya, karena dia selalu kesepian dirumah. Apalagi setelah dia putus dari Nadia, cerita yang telah dirajut lama yang terputus karena masalah kecil yang menjadi besar. Hal itu membuat nya semakin kesepian dan makin terlarut dalam dunia malam.
Setelah berjam-jam mereka bercanda dan makan-makan cemilan dikafe itu, kumpulan anak  muda itu berpindah tempat ke sebuah tempat hiburan malam. Jalan-jalan seperti milik mereka, dengan seenaknya mereka mengendarai motor mereka. Memang pada saat itu ada yang beda Rizky tidak membonceng  seorang wanita seperti biasanya. Dan beberapa saat kemudian mereka sampai di sebuah tempat hiburan malam.
Tak terasa malam semakin larut dan mereka pun dalam keadaan setengah sadar. Dengan mata yang tidak begitu jelas melihat jam tangan nya ternyata waktu sudah menunjuk kan jam 3 pagi. Rizky pun segera meninggalkan tempat hiburan itu, dan mengendarai  motornya dengan kecepatan tinggi. Walaupun tidak terkendali dalam mengendalikan motornya, namun ternyata sampai juga dengan selamat. Dengan seperti orang gila dia menggedor pintu rumahnya dan membuat pembantu rumahnya terbangun. Dan dengan terjatuh beberapa kali dia menuju kamarnya.
Saat terlelap dia masuk dalam sebuah mimpi, dan masuk kesebuah desa yang dipenuhi hutan setelah dia memasuki hutan yang penuh rintangan dia lalu keluar dari sisi lain hutan itu dan melihat  sungai yang mengalir dan jernih. dia melihat sosok perempuan yang memberikan anak bayinya kepada perempuan lain. Dengan air mata yang mengalir. Lalu dia tenggelam kedalam sungai.
Sinar matahari pagi menyinari  kamar  melalui sela-sela gorden kamar itu, yang didalamnya masih tertidur seorang laki-laki. Dering handphone nya membangun kan laki-laki itu. Dan dia membuka sms dari temannya yang mengingatkan nya bahwa ada jam kuliah hari itu. Beberapa lamanya dia termenung sebelum melepaskan diri dari tempat tidur. Masih terpikir dalam benaknya mimpi yang menghampirinya dini hari itu. Dan dia merasa tidak asing dengan sosok perempuan yang memberikan bayi kepada perempuan lain itu. Setelah beberapa saat dia termenung , lalu dengan cepat dia langsung  mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Sambil mandi dia masih teringat dengan mimpi yang dialaminya tadi malam.
Setelah selesai mandi dia langsung berpakaian seadanya dan membereskan berkas kuliahnya kedalam tas nya, setelah merasa tidak ada yang ketinggalan dia pun keluar dari kamarnya, lalu ada suara dari dapurnya. “Rizky sarapannya sudah siap”. Dan dia pun langsung menuju meja makan dan dengan tergesa-gesa menghabiskan sarapannya, karena hari itu dia bangun kesiangan lagi. Setelah menghabiskan nasi goreng dan jusnya, dia lalu menghampiri mobilnya yang telah bersih.  Lalu membawanya melaju jalan raya, dan untungnya pada hari itu dia tidak terjebak macet.
Sesampainya diparkiran kampus, dia bertemu dengan Rio temannya. Dan memarkir mobil bersebelahan. Mereka bersandar dimobilnya dan berbincang-bincang sebentar. Beberapa saat kemudian  mereka berdua menuju ruangan dan sekitar beberapa menit mereka berada dalam ruangan kuliah dosen nya pun masuk. Saat dosen memberikan materi entah kenapa pikiran Rizky slalu melayang kemana-mana dan merasa waktu berjalan lambat dan ruangan terasa membosankan. Hingga saat jam kuliah berakhir dia langsung berfikir untuk pulang.
Namun, saat dia mau membuka mobilnya, ada suara Rio yang memanggil-manggilnya, dan member tahukan bahwa mereka berdua  dipanggil Pak Muammar, dan diperintahkan untuk meenemuinya diruangannya. Dengan setengah malas Rizky pun ikut dengan Rio ke ruangan Pak Muammar. Setelah Sampai diruangan pak Muammar, mereka berdua mengetuk pintu dan mengucapkan permisi. Lalu Pak Muammar mempersilahkan mereka duduk di sofa.
Beberapa saat hening suasana ruangan itu, mereka berdua masih bingung mengapa dipanggil keruangan itu. Sementara Pak Muammar masih berdiri didepan lemari, dan membuka-buka map yang berisi berkas-berkas data mahasiswa. Setelah hening yang membosankan lalu Pak Muammar pun membuka pembicaraan.
“Kalian tau mengapa kalian dipanggil kesini??”
Dengan menggelengkan kepala meraka berdua kompak menjawab,
“Tidak tau Pak.”
“Kalian itu dipanggil kesini karena ada pembagian tugas bagi mahasiswa, dan kalian berdua mendapat tugas untuk penelitian tentang potensi alam diwilayah desa Jambu Merah di Jawa Barat.”
“wahh….  Jauh banget Pak tempatnya, sejak kapan kami mulai kesana pak”
“Kalian ketempat itu mulai hari Rabu minggu depan, dan kalian berdua disana sekitar satu bulan. Jadi Persiapkan lah segala sesuatunya mulai dari hari ini”
“Baiklah Pak, kami berdua permisi dulu. Selamat siang Pak.”
“Selamat siang”
Setelah  mendengar tugas yang diberikan Pak Muammar, ada sesuatu yang berdesir didalam perasaan Rizky, entah apakah itu, dia sendiri pun tak tau. Sepulang dari kampus Rizky mampir dulu disebuah kafe untuk menenangkan diri, dan menikmati secangkir minuman mocca. Setelah beberapa lama dikafe dia pun pulang dan menyusuri jalan sambil mendengarkan  house music, dimobilnya.  Meskipun sempat terjebak macet beberapa menit , tapi akhirnya dia sampai juga kerumahnya. Dengan rasa letih Rizky langsung menuju kamarnya dan  melepaskan diri ketempat tidur. Lalu tertidur  hingga sore hari.
Tidak terasa hari-hari berlalu,Rizky dan Rio harus melaksanakan tugas dari Pak Muammar.  Dan mereka memulai perjalanan jam 10 pagi dari kampus mereka, setelah diberikan pengarahan oleh Pak Muammar.  Disepanjang perjalanan mereka hanya bercanda dan ditemani house music, dengan camilan kacang dan keripik.  Sekitar 5 jam perjalanan mereka sampai ke desa Jambu Merah pada saat memasuki wilayah desa Jambu Merah Rizky tiba-tiba menghentikan laju mobilnya. Dan Rio pun bingung dengan kejadian itu. Rizky hanya terdiam saja. Saat itu dia melihat gadis berkerudung biru yang dia lihat disebuah toko buku.  Yang saat itu melintas didepannya dengan menggunakan motor matic dan berpakaian jubah hijau dengan kerudung putih. Karena Rio Merasa kebingungan dengan sikap Rizky, dia pun membuka mulutnya.
“Riz, kenapa sih kok loe tiba-tiba berhenti. Lagi pusing ya??”
“nggak apa-apa kok. Iya nih pusing kepala gw.”
“Sini deh, biar gw aj yang bawa mobilnya, loe tiduran aja.”
“oke deh. Thanks sob.”
Selama Sisa perjalanan Rizky mencoba memejamkan mata, namun bayangan gadis yang dulu muncul kini mulai bermain lagi didalam fikirannya. Entah mengapa hatinya berdesir  saat melihat gadis itu. Dan dia merasa mengenal  gadis itu.
Akhirnya … mereka berdua pun sampai didesa Jambu Merah mereka menuju balai desa dan disambut oleh Lurah dan warga masyarakat tersebut. Setelah itu mereka berdua berbincang-bincang tentang tugas mereka dan tujuan mereka datang kedesa itu. Yang sudah diberi tahukan oleh Pak Muammar kepada Lurah desa tersebut. Tiba-tiba pak lurah pun memanggil seorang wanita paruh baya dan memintanya mengeluarkan kue dan minuman kepada dua tamu mereka. Lalu wanita itu pun berkata.
“Anu Pak Lurah, tadi kuenya lagi dibelikan non Zahra, kepasar”
“Apa Zahranya belum datang juga??”
“Nah itu dia Zahra sudah datang Pak Lurah, sebentar disiapkan dulu kuenya”
“iya, ayo cepat tamunya sudah lama disini.”
Lalu dengan cepatnya Rio langsung berkata kepada Pak Lurah. “Tidak Usah Repot-repot pak kami sudah kenyang kok.” ……. Padahal perutnya Rio merasa lapar. Lalu Rizky pun berbisik pada Rio. “nggak usah sok sopan deh loe. Sebenernya loe pasti laper kan, Cuma jaga sikap aja didepan pak lurah. Hehe”
Lalu Pak lurah Pun berkata “Tidak apa-apa nak kalian kan sudah jauh-jauh datang kesini, nah.. itu dia Zahra datang membawa makanan”
 Saat itu juga Rizky langsung terdiam, karena saat itu dia melihat gadis yang menjadi misteri dalam kehidupannya akhir-akhir ini. setelah itu Pak Lurah dan mereka berdua memakan kue dan meminum teh. Sambil makan Pak Lurah lebih banyak berbincang dengan Rio. Karena pikiran Rizky yang terbang dihinggapi bayangan gadis itu, dalam rasa kebingungan.
Setelah itu mereka diperkenalkan dengan Yusuf anak kiyai Khalid pemilik Pondok Pesantren Al - Furqon Dan mereka berdua akan tinggal dirumah pak kiyai Khalid selama didesa itu. Dan setelah itu mereka berpamitan dengan Pak Lurah lalu menuju rumah yusuf.
Pada sore itu, sehabis mandi dengan air yang segar dan jernih, Yusup mengajak Rio dan Rizky jalan-jalan mengelilingi desa. Dengan berjalan kaki menyusuri pinggiran sungai dan sawah yang luas. Mereka berdua pun mulai berkenelan dengan warga setempat dan mulai merencanakan berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan.
Malam yang sunyi dan dingin . Malam itu mereka dikenalkan dengan kiyai Khalid dan para santri dipondok itu. Setelah para jamaah bubar dan kiyai Khalid ada urusan, Rio dan Rizky duduk diteras mesjid. Lalu Rio membuka pembicaraan dengan Rizky.
“Eh… Riz kita disini lama-lama jadi orang alim deh, hehe…… Untung aja gw masih inget cara sholat”
“iya ya… kan kita jarang sholat, disini kan pesantren jadi masa sih kita seperti biasa, beradaptasi donk”
“o..ya biasanya kan kita jam segini pada nongkrong trus clubbing. Kalo disini ngantuk gw, sepi amat ni tempat. Ya udah gw tidur dulu ya”
“Tidur aja loe sana, gw masih mau liat bintang disini, kan jarang bisa liat bintang”
Beberapa saat setelah Rio pergi, yusuf datang menghampiri Rizky. Lalu dengan penuh rasa penasaran Rizky menanyakan tentang wanita yang menjadi misteri akhir-akhir ini dalam hidupnya, yang dipanggil Zahra oleh Pak Lurah. Dan ternyata dari cerita yusuf, gadis itu bernama Zahratu Shita, yang merupakan anak pertama kiyai Khalid atau kakak Yusuf. Yang baru lulus ponpes Darul Qur’an dan mengajar diponpes milik Kiyai Khalid.
Waktu pun berlalu dan dua mahasiswa itu telah melaksanakan berbagai kegiatan didesa itu. Dan Rizky pun sudah mengenal Zahra dan keluarga ponpes Al – Furqon serta masyarakat desa itu pun akrab dengan mereka. 
Hingga suatu malam Rio,Rizky dan Yusuf dalam perjalanan pulang dari Bogor, menggunakan mobil Rizky, menuju desa Jambu Merah. Mereka menerima tugas yang diperintahkan Pak Lurah. Sepanjang perjalanan pulang Rizky dan Rio bergantian mengendarai mobil. Saat itu suasana memang sangat mengantuk dan mereka bertiga sudah sangat kelelahan. Meskipun jam baru menunjukkan pukul  22:30. Saat itu Rio dan Yusuf duduk dikursi belakang dan mulai ketiduran, sedangkan  Rizky yang juga dalam keadaan mengantuk mengendarai mobil. Hingga kejadian tak terduga pun terjadi. Mobil yang ditumpangi mereka bertiga menabrak pengendara motor dari arah berlawanan. Rizky yang langsung mengerem mobil dengan mendadak membuat mobil terpental dan saat itu Rizky dan Rio tak sadarkan diri dan penuh luka. Sementara Yusuf  yang masih sadar dan hanya luka ringan menelpon ayahnya agar meminta pertolongan warga. Dan yang membuat Yusuf kaget adalah ternyata pengendara motor yang mereka tabrak adalah Zahra kakaknya sendiri.
Saat itu Zahra yang ingin keterminal menjemput  temannya yang baru sampai dan ingin menginap diponpes kiyai Khalid. Sekitar beberapa menit kemudian kiyai Khalid dan rombongan warga datang membawa mobil Pak Lurah dan Membawa korban kecelakaan ke Rumah Sakit Amanah, karena itu Rumah Sakit terdekat.  Pada saat itu juga Yusuf membuka handphone Rio dan Rizky untuk mencari nomor handphone orang tua mereka, lalu menghubunginya.
 Pada saat itu Mama Rizky Baru pulang kerumah. Dan langsung kaget menerima telpon yang mengabarkan bahwa Rio dan Rizky kecelakaan. Dan saat itu juga Mama Rizky langsung menuju RS Amanah. Hampir subuh Mama Rizky baru sampai ke Rumah Sakit itu.
Sementara itu Rizky dan Rio sudah sadar karna merasa bersalah Rizky langsung meminta maaf kepada Rio dan Yusuf atas kejadian itu. Rizky yang saat itu masih penuh perban dan memakai infus, langsung minta antar Yusuf Keruangan Zahra dirawat menggunakan kursi roda. Dan ternyata Zahra belum sadar. Pada saat itu lah Rizky menangis penuh sesal dan maaf kepada Zahra. Namun kiyai Khalid Berusaha menenangkannya dan mengatakan bahwa itu sudah menjadi takdir allah.
Saat itu bukan hanya Rasa maaf yang dirasakan Rizky namun juga perasaan yang baru disadarinya, bahwa dia mencintai Zahra dan takut kehilangannya. Namun dia sadar kehidupannya berbeda dengan Zahra, dia merupakan orang yang suka clubbing sebelum tinggal diponpes, sedangkan Zahra merupakan gadis baik-baik, anak kiyai. Namun didalam hatinya yang terdalam dia akan berubah menjadi lebih baik dan belajar mendalami ilmu agama. Bahkan dia berniat untuk tinggal diponpes, karena kuliahnya yang hampir selesai. Saat itu memecah keheningan Mama Rizky datang dan memeluk anaknya.
Namun… Semua berubah tegang dan mengharukan ketika Mama Zahra masuk ruangan itu, Mama Rizky dan Mama Zahra saling tercengang dan spontan Mama Rizky menyebut “Raihana???”. Yang merupakan nama mama Zahra, yang kemudian membalas dengan kata, “ka..ka..kamu Nayla??”.
Dan mereka berdua pun saling berpelukan. Semua orang diruangan itu penuh dengan tanda Tanya…
Dan pada saat itu Zahra sadar, lalu semua  yang berada diruangan itu mengucapkan “Alhamdulillah”.
Dan pada saat itu orang-orang bertanya tentang apa hubungan antara Bu Raihana dan Bu Nayla, yang sepertinya sudah sangat mengenal. Dan Bu Nayla pun meminta agar semua yang ada dalam ruangan itu tenang, terutama Zahra dan Rizky. Lalu Bu Nayla Pun mulai bercerita. Dahulu pada saat SMA, Bu Nayla dan Bu Raihana adalah sahabat yang tak terpisahkan sejak SMP. 
Dan Pada saat lulus sekolahBu Raihana menikah dengan seorang pemuda lulusan Pondok Pesantren Gontor  yang bernama Khalid. Sedangkan Bu Nayla memili kuliah dan saat itu berpacaran dengan seorang lelaki, yang kemuadian Bu Nayla hamil diluar nikah, sedangkan pemuda itu tidak mau bertanggung jawab. Lalu untuk menyembunyikan aib, setelah melahirkan seorang anak perempuan, anak itu diberikan kepada Bu Rihana. Yang saat itu belum dikaruniai anak setelah menikah beberapa tahun. Dan kemudian Bu Nayla pergi Ke luar negri untuk melanjutkan kuliahnya, kemudian menikah dengan taman kampusnya  dari kalimantan yang menjadi ayahnya Rizky.
Lalu dengan spontan Zahra memanggil Bu Nayla lalu menyebutnya Mama. Dan Bu Nayla pun memeluk Zahra penuh rasa bahagia. Dan Bu Raihana sambil menangis berkata kepada Bu Nayla.
“Nay… apa kamu akan mengambil anak mu kembali??? Aku sudah sangat menyayanginya seperti anak ku sendiri.”
“Tidak ray… aku akan tetap membiarkan nya tinggal bersamamu, aku hanya ingin member tahu identitas sebenarnya agar dia jelas, karna dia anak perempuan harus tau siapa orang tua kandungnya.”
Dan pada saat itu Azan subuh pun berkumandang. Dan semua yang ada diruangan itu menuju musola rumah sakit. Sementara Rizky diantar keruangan kamarnya, karna kakinya masih patah tulang.
Dengan hati yang campur aduk, Rizky yang baru menyadari rasa cintanya itu, dia langsung merasakan hati yang remuk dan galau. Karena mengetahui orang yang dia cintai adalah kakaknya sendiri yang berjarak satu tahun dengan nya.




Cerpen Ini sudah Lama q buat, tapi setiap kali membuat cerpen dan puisi aku sering tidak Percaya Diri mempublikasikannya...... masih banyak cerpen dan puisi yang hanya ku simpan dinotebook ku,
ku coba satu per satu memposting nya ke BLOG ku ini.
Ku Mohon Bila ada yang baca cerpen  ku ini. kasih koment ya. biar ku tau kekurangan dari tulisan ku,

Sabtu, 29 Januari 2011

ARTI CINTA VERSI PUTERI

Cinta……
Adalah anugerah terindah dalam
Hidup manusia
Ketika cinta merasuk
Didalam sanubari hati
Semua terasa indah
Waktu bersamanya terasa sangat berarti
Cinta,,,,,,,,,,,
Telah mendewasakan manusia
Mengubah keburukan jadi kebaikan
Mengubah api menjadi embun
Cinta……..
Akan menusuk dan hancurkan hati
Ketika adanya kebencian dan kebohongan
Saat cinta pergi….
Hanya kesedihan
Dan air mata
Cinta harus dijaga
Dengan  ketulusan hati
Alangkah indahnya cinta
Apabila manusia
Dapat saling member
Dan menerima
Dengan ketulusan
Apa adanya

DERITA DALAM BAHAGIA

Kau beri aku cinta
Dan kasih sayang tulusmu
Kau menjagaku slalu
Dan berikan inginku
Tanpa ku pinta
Tapi mengapa
Aku sulit mencintaimu
Aku sulit percaya semua ini
Mengapa………. Mengapa…….
Hati ini masih ragu padamu
Kita sudah lama mengenal
Dan saling mengerti
Yakin kan lah hatiku
Kau slalu ingin ku bahagia
Tapi kesalahan tlah ku buat
Ku beri kau harapan  indah
Yang  membuatku tersiksa
Dalam sebuah dilemma
Tersiksa karna kebahagiaan mu
Mengapa…… mengapa……
Kau ingin kan aku

AKU DAN PERASAAN

Mengapa…………
Mengapa hati ini tak bisa berdusta
Berdusta untuk perasaan ini
Meskipun lidahku berkata benci
Tapi hatiku berkata cinta
Mengapa…………
Mengapa cinta ini merasuk
begitu dalam dihatiku
pertanda apakah itu
aku pun…..
 tidak pernah  mengerti
mungkin…..
mungkin suatu saat nanti
lidahku bisa
bersahabat dengan hatiku ini
dan aku pun bisa mengerti
tentang …..
perasaan hatiku ini

KENYATAAN INI

Ketika mentari telah
Menyembunyikan sinarnya
Angin dingin berhembus
Membelenggu tubuhku
Aku merasakan kesendirian
Yang tanpa ujung
Aku bertahan………… berjuang
Mencari nafas hidup
Hanya sendiri
Ku lakukan apa pun
Agar aku hidup lebih lama
Aku hanya bisa berdo’a
Dan slalu berharap
Untuk terus ada didunia
Yang fana ini
Meski kenyataan begitu sakit
Dengan penyakit
Yang lama besarang ditubuhku
Meski bibirku
Slalu tersenyum… tapi
Tubuhku bergetar
Merasakan sakit
Yang tidak pernah ku harap ada

MY LOVE

Kau adalah semangat hidupku
Kau seperti mentari dipagiku
Apa kau tau
Bahwa cintaku
Sangatlah besar untukmu
Sesuci embun  dan
Sebening Kristal
Setulus sinar mentari
Wajahmu bagai rembulan
Yang bersinar
Yang menerangi malam ku
Dalam tidur
Aku selalu terbayang akan dirimu
Yang bagiku sempurna
Dan bagiku kau lah bintang
Yang terindah
Dalam  hidupku
Yang selalu beersinar
Dan takan pernah redup
Sampai kapan pun

""ini adalah puisi pertama yang ku buat pada bulan desember 2007""
buat pacar pertama (cie cie.......... masih kecil udh pcaran...... hehehe)
setelah ku bikin puisi ini
q sering bikin puisi dlm wktu cepat

Memori Terindah

Waktu takan bisa ku henti
Membawa cerita itu terus
Terus menghilang dari alur langkah
Ketika ku tersadar
Kini kau tak disamping ku lagi
Maaf….
Karna aku meninggalkan mu disana
Saat bayangan masa itu hadir dalam hidupku
Cerita tentang keindahan
Cerita tentang masa itu
Cerita tentang kasih sayang
Ceriat tentang canda tawa
Cerita tentang air mata
Cerita tentang Aku dan kamu
Sahabat……
Akan ku gores semua
Semua yang telah berlalu
Saat yang sangat ku kenang
Dalam mimpi dan nyata
Takan ku hapus masa itu
Seperti gelombang yang slalu
Menghapus pasir di tepi pantai
Karna kamu akan tetap bersandar
Dalam dermaga hati ku
Akan ku bingkis
Sejuta rindu untukmu
Ku yakin tuhan pasti kan
Temukan kita ditaman Hati
Dan jadikan semua
Indah pada waktunya


NOTE : Puisi Ini Aku tulis Untuk Sahabat - sahabat ku yang ada diAmuntai
aku slalu merindukan mereka
aku slalu sayang mereka
dan canda tawa bersama mereka adalah memori terindah yg ku miliki

Untukmu Ayah

Detak waktu seirama
Dengan detak jantung ku
Akankah waktu itu kembali
Ku rasa tidak
Titip rinduku untukmu
Aku haus kasih sayang mu
Aku ingin belai lembutmu
Aku ingin tutur katamu
Saat kau menasehatiku
Saat kau memarahiku
Itu kan ku jadikan mutiara
Yang ku bingkis dengan kerang hatiku
Akan ku raih pelangi indah
Dan ku dekap dirimu ayah
Meski hanya dalam mimpi

NOTE : Puisi ini ku tulis 
puisi untuk temanku Amy yang Bercerita tentang Ayahnya yang telah meninggal dunia

KESETIAAN HATI

Dalam malam aku berpijak
Diantara rindu aku akan bertahan
Kepakan sayap-sayap cinta terindah
Menembus batas jarak
Yang memisahkan kita
Denting waktu terus berputar
Tanpa lelah aku akan menunggu mu
Meski hatiku berkecamuk
Untuk mencari cinta yang lain
Tapi aku takan pernah tega
menginggkari janjiku padamu
aku akan setia dalam lingkaran hatimu
mencntaimu dengan sepenuh hati
karna aku begitu tulus menyayangimu
walau aku terus menangis
karna rindu pada dirimu
oh…. Kasihku
aku akan setia disini
menyayangimu
tanpa batas waktu

NOTE : Puisi Ini Aku Buat Pada saat Aku pacaran jarak jauh dg Someone.
tapi long distance itu berakhir,,,,,,,

Sabtu, 11 Desember 2010

Masa Lalu

Waktu yang terus berjalan menyisakan

wajah yang sangat indah

walaupun begitu sakit untuk ku ingat

warna yang merona kini mengingatkan ku

waktu bersamamu

walau ku menangis menanti

wajah itu takan kembali lagi untukku

warna yang indah kini berubah kelam

Sabtu, 18 September 2010

Cinta Biru Menyentuhku

Petugas kebersihan berseragam biru-biru, Bandara Soekarno Hatta, mengambil beberapa potong kertas dari bawah kursi ruang tunggu VIP yang telah sepi. Memasukkannya kedalam kotak orange yang sejak seharian selalu menemaninya.
Dilihatnya sebuah Koran di kursi paling pojok. Diraihnya, sebelum Ia tersadar di balik Koran itu ada sebuah buku bersampul biru.
Milik siapakah buku ini? Kasian sekali pemiliknya, pasti sangat merasa kehilangan.
Dia buka cover buku itu. Halaman pertama.
Sepotong tulisan pendek…

“Samudra”

Tangan tuanya membalik lembar pertama dengan hati-hati seolah takut mengotori lembaran bersih buku itu.
***
(Biru, seorang yang selalu aku cintai, semoga Tuhan selalu bersamamu. Mendekapmu dalam kasih-Nya).

***
Diurungkan niatnya untuk membalik halaman kedua. Merasa tidak memiliki kewenangan untuk membaca buku milik orang lain. Di letakkan buku itu pada tempat semula. Kemudian membalikkan badannya dan beranjak pergi.
Baru beberapa langkah, dia berhenti.
Seandainya, ada orang yang mengambilnya?!
***
Rumah kontrakan yang sempit itu adalah satu-satunya tempat Ia bernaung dari panas dan hujan, selama ia mencari nafkah di kota besar ini, untuk menghidupi keluarganya yang Ia tinggalkan di kampung halamannya.
Setelah melepas lelah dan makan malam alakadarnya, ia merebahkan badannya. Pandangannya terhenti pada sebuah buku di atas lemari tua, satu-satunya benda dalam ruangan itu.
Buku bersampul biru yang tadi siang Ia temuakan di bandara tempat Ia bekerja.

***
Aku bangkit dari kursi setelah layar monitor komputerku mati.
Kuhampiri jendela lantai dua puluh satu apartemenku.
Lalu lintas di bawah sana masih sangat ramai, kulirik jam tanganku, menunjukkan jam 17.35. Pantas saja suasana lalu lintas begitu ramai, dan pantas saja perutku terasa sangat perih. Jam makan siang sudah jauh terlewat rupanya, bahkan sarapanpun merupakan hal yang aneh bagiku.

Kusambar jaket kulit kesayanganku, kukenakan sambil berjalan menuju Lift.
Kunyalakan Pak menteri B. 511 BR, mobil besar kesayanganku.

Sepuluh menit kemudian aku sudah berada di antrean panjang, sepanjang pusat perkantoran di kota tempat tinggalku saat ini.

Akhirnya aku memutuskan untuk memilih spagheti house untuk mengisi perutku yang semakin perih. Ku hampiri satu-satunya meja yang kosong di pojok kanan restoran tersebut. Rupanya banyak juga yang telat makan. Akh, sok tau sekali aku. Mungkin mereka hanya menghabiskan waktu menunggu lalu lintas agak sepi untuk menghindari macet, jadi sekedar duduk-duduk bersama temannya. Tertawa dan bercanda sambil melepas lelah setelah seharian bekerja.
Aku memesan Cheese Burger dan segelas cola dingin. Sambil menuggu pesanan, aku buka majalah yang tadi sempat aku beli di depan restoran, mmm..tidak ada yang menarik perhatianku.
****
Pesananku datang tepat ketika Lima orang anak remaja laki-laki dan seorang perempuan masuk dan langsung jadi pusat perhatian!

“Hahahahaha, give me five…”
“Lo keren banget waktu maen tadi Sha! Sumpah..!”
“yo'a, guee!”

Si gadis yang dipanggil “Sha” dengan bola basket ditanganya hanya tersenyum.
Gadis itu mengingatkan aku pada sosok “Biru”, satu-satunya gadis paling cuek yang pernah aku kenal yang hingga saat ini tidak mau beranjak dari hatiku..
“Tuhan, apa kabar Biruku…?” bisikku dalam hati.

“Sha.. lo mo makan apa?”
“mmmm… bentar masi bingung, aku masiiii seneng bangeeeet, aku nggak ngira bakal menang Jo..”

Tuhan, aku nggak ingin memandang ke arah mereka, tapi sialnya mejaku persis di sebrang meja mereka.
Gigitan pertama di Cheese Burgerku terasa sangat pahit menyaksikan kehangatan mereka, menyaksikan cara bicara gadis itu, tawanya, senyumnya..
Akh Tidak!
Terbayang dengan jelas sosok Biru lima tahun yang lalu, sama persis dengan gadis pemain basket di depanku!

Sejak kecil aku selalu merasa bahwa aku adalah makhluk yang paling dimanjakan oleh Tuhan di dunia ini. Bagaimana tidak, aku memiliki orang tua yang penuh cinta dan kehangatan. Mom yang cantik, lembut. Dad yang gagah dan menyenangkan. Aku tidak pernah kekurangan apapun selama hidupku.
Tapi pada akhirnya semua berubah begitu cepat. ketika aku beranjak dewasa dan jatuh cinta pada seorang bernama Biru . Seorang perempuan biasa yang lembut, ramah, penuh cinta tapi sangat memegang prinsip.

“Sam, kamu tahu kita berbeda, kita tidak bisa bersama. Agama yang aku yakini, melarang aku menikah dengan kamu. Aku tidak bisa melanjutkan ini. Ingat Sam, ketika kita sedang berjalan di tepi pantai, semakin kita ketengah akan semakin sulit kita kembali. Selagi kaki-kaki kita belum basah, selagi kita masih di tepi, sebaiknya kita kembali. Aku tidak bisa menjadi kekasihmu.”

saat kau mengucapkan itu, aku melihat dari sorot matamu yang paling jujur dan aku sangat meyakininya. rasa cintamu padaku sebesar rasa cintaku padamu. Kenapa pergi Biru?! kenapa?!

Tuhan menciptakan sebongkah yang bernama “perasaan” yang indah, tapi sangat sulit aku pahami.
Begitu pahit dengan cerita sedih yang tidak berkesudahan karena sebuah perbedaan. Tapi juga membawakan sebongkah kebahagiaan yang tak terhingga.

Itulah terakhir aku melihatnya..
***
Hampir satu jam aku berada di pelataran parkir. Tak terasa pipiku basah.
Ku kenakan kaca mata hitamku. Menghidupkan pak menteri dan keluar dari pelataran parkir. Beberapa orang gadis menatapku, bahkan ada yang nekad berteriak “hai ganteng, godain kita dong..”
“so cool banget seeh..”

Akh, peduli apa dengan mereka. Inilah aku. Inilah hidupku.

Aku membuka pintu apartemenku. Sepiiii… setiap hari selalu seperti ini. Sepiii.. dan sepiii..

Ku hempaskan tubuhku di atas karpet di samping tempat tidur.
Ku buka laci kecil dan ku keluarkan beberapa pil penenang dari botolnya.
Ku isap dalam-dalam Malboroku. Pahit tercekam di tenggorokanku. Tenggorokanku makin sesak saat kuingat adegan di spagheti house tadi.

Sedang apa Biru sekarang..?
Semua kenangan seperti film yang diputar kembali dalam ingatanku. Tentang sosok bernama Biru, pertama kali bertemu dengannya saat aku datang ke satu kota untuk ikut ujian masuk perguruan tinggi negeri.
Tidak ada kesan apapun tentang Biru, tapi setelah hampir setiap hari minggu sepulang dari Gereja aku bertemu dengan dia. Masih tidak ada yang istimewa. Akhirnya aku harus bertemu setiap hari dengan Biru di sebuah tempat bimbingan belajar favorit di kota itu.
Masih belum ada yang istimewa..

Sampai suatu sore, aku papasan ditempat parkir dengan Biru, pandangan kami bertemu, itulah pertama kalinya aku bertatapan dengan Biru, saat memandang ke dalam matanya ada yang bergetar di dalam sini, dan aku tidak tahu itu apa.

“Hai..” sapaku
“Hai juga.” Biru tersenyum lembut sekilas, tapi sungguh senyumnya membuat aku salah tingkah.
Aku membenikan diri..
“Aku Samudra, panggil aja Sam, kita sekelas tapi nggak kenal..”
“Aku Biru..”

Sejak perkenalan itu, selain di tempat les, kami sering bertemu tanpa disengaja, di toko buku, di toko kaset, di taman bacaan, di lapangan olah raga umum.

Biru sipecinta basket.

Ntah mulai dari mana, aku makin dekat dengan Biru. Biru yang periang. Biru yang tidak pernah kehabisan ide. Dengannya aku bisa tertawa sekeras-kerasnya.

Setiap hari minggu, sepulang dari Gereja aku menjemput Biru dari mentoring di ITB (sejenis sekolah minggu mungkin kalo di agamaku).

Aku mulai sering rindu tawanya. Kejahilannya. Ide-ide segarnya. Tidak pernah sekalipun aku merasa bosan ada di sampingnya.

Aku masih ingat ketika dengan halus Ia menepis tanganku, saat tanganku hendak menyentuh pipinya ketika dia menangis.
Biru tidak pernah membiarkan aku menyentuhnya. Dia menyampaikannya begitu halus, kenapa dia tidak mau disentuh. Alasan yang tidak aku pahami pada mulanya, muhrim, khalwat, dan lain-lain. setelah aku kenal Raffa barulah aku mengerti.
salahkah aku semakin ingin memilikinya.

Isakku tak dapat ku tahan lagi. Aku sangat merindukan Biru.
Aku tahu ini sangat cengeng, tapi seolah-olah biru sudah masuk kedalam darahku, menyatu dengan hatiku, pikiranku. Hah! Ini sungguh gila!

Terakhir aku melihatnya lima tahun yang lalu sebelum aku memutuskan lari dari rumah suatu malam di mana untuk pertama kalinya tangan Dad menyentuh pipiku! Lebih tepatnya menampar pipiku!
Hardikkannya masih terngiang ditelingaku!

“Mempelajari Islam?!”
“Apa maksud kamu?!!”
“Tidak!”

Rasa sakit di wajahku tidak seberapa, tapi sakit di dalam sini yang tak terhingga.
Memang aku yang bersalah. Aku melakukan sebuah kesalahan yang tak termaafkan. Aku pantas untuk mendapat tamparan dari Dad.

Aku begitu merindukannya. Biru…!
Kenangan akan Biru mengusikku kembali.

Lima tahun sudah semuanya Berlalu. Dalam lima tahun itu aku tidak pernah berhenti mencari tahu tentang Biru. Aku tahu persis dimana dia berada. Aku tahu betul dia sekolah dimana. Aku tahu betul Biru tidak memiliki kekasih, sampai dengan hari ini. Dan benar atau tidak, aku yakin masih ada cinta untukku di hatimu.

Sempat terlintas untuk menelponnya saat aku akan diambil sumpah. Seandainya Biru tahu, aku berhasil jadi Dokter. Tapi aku belum sempat berbuat untuk sesama melalui profesiku.
Ntahlah Biru..

Aku memang seorang laki-laki yang egois, aku tidak mudah bergaul, aku tidak punya banyak teman. Aku terlalu sombong dan angkuh untuk menunjukkan bahwa aku membutuhkan seseorang.
Aku memang terbiasa mandiri. Dan aku mampu melakukan apapun sendiri. Sangat mampu. Yang aku tidak mampu lakukan adalah… berhenti mencintaimu.
Berhenti memikirkanmu.
Aku bukan orang yang cengeng Biru, kamu tahu seumur hidupku, baru tiga kali aku menangis.
Tapi hari ini sudah lebih dari dua kali aku menagis. Hari ini saja. Aku kesepian Biru..

Semakin deras isakku. Aku raih ponselku, kutekan sederet nomor yang sudah sangat aku hafal. Hanya saja aku tidak sanggup untuk menyimpannya di dalam phone bookku.

“Halloo.. Assalamualaaikuum…”
“Hallo… siapa ini” ………………………………

Bergetar hatiku mendengar suara yang sudah sangat aku kenal, aku tidak bisa berkata apa-apa.

Dinginnya AC ruangan kamarku membuat hatiku semakin dingin dan membeku.
Ku hisap rokok terakhirku, pahit. Sepahit apa yang aku rasakan saat ini. Hatiku berdarah.

Dengan pakaian lengkap, kubiarkan air dingin deras dari shower membasahi rambut dan seluruh tubuhku.
Cairan hangat semakin deras mengalir di pipiku bersatu dengan pancaran air shower.
Kelepaskan tangisku sekuatnya, isak yang tadi kutahan pecah sudah. Membuat guncangan di bahuku. Lebih dari satu jam aku menangis di bawah shower.
Ku kenakan handuk untuk membungkus badanku yang mulai mengigil. Handukku langsung basah seketika, dari baju yang aku kenakan.

Sayup-sayup terdengar suara adzan. Hampir setiap subuh aku mendengarnya, karena belum sempat memejamkan mata dan tertidur.
Malam-malam yang panjang kulewati dengan kerja dan kerja mengejar deadline tulisan-tulisanku. Sejak mengenal Biru aku mulai suka menulis dan sanggup menghabiskan waktu berjam-jam di depan laptopku. Beberapa karyaku bertebaran diluar sana.

Suara adzan itu tidak pernah sekalipun membuat aku beranjak untuk shalat. Aku merasa Tuhan tidak adil, setelah aku masuk Islam, setelah aku belajar banyak hal tentang Islam, setelah aku merasakan perihnya tamparan Dad dipipiku. Setelah itu semua. Tuhan tetap saja tidak Bisa mempersatukan aku dengan Biru.
Biru tetap jauh, bahkan semakin jauh, dan semakin sulit aku jangkau.

Ntah kenapa, pagi ini aku begitu rindu shalat. Sesaat aku ragu, masih hafalkah aku bacaan shalat?

Apa benar yang dikatakan Raffa bahwa aku belum kaffah!
Apa itu kaffah?!
Apa benar aku tertarik Islam karena aku menginginkan Biru?!

Air wudlu membasahi wajah sembabku, ku ambil sajadah berwarna biru.
Aku rentangkan dengan lembut di atas karpet, lagi-lagi berwarna Biru.


Aku angkat kedua tanganku.
Aku menyebut nama-NYa..
Bergetar hatiku ketika nama-Nya.
Tidak aku duga, bacaan shalat masih melekat kuat dalam ingatanku.
Ruku.
Sujud.
sujud.
…
Rakaat pertamaku lancar.
Rakaat kedua, agak terbata-bata, suaraku tersekat ditenggorokan, saat cairan bening mulai terasa hangat di kedua pipiku.
Aku meleleh, berserah diri sepenuhnya.
Aku serahkan diriku, hidupku dan segala asa yang ada kepada Tuhan, pemilik hidupku.

Aku mohon ampunan atas segala dosa, pengkhianatan dan pengingkaranku akan kehadiran dan cinta-Nya selama ini, begitu lama aku berpaling dari-Nya.
Begitu lama aku melupakan-Nya. Begitu lama aku hidup dalam kesendirianku tanpa memperdulikan dan tanpa mengingat-Nya.
Angkuh!
Arogan!
Aku pura-pura dungu!
Pura-pura tidak tahu siapa pemilik hidupku.
Begitu lama aku terlena dan menggantungkan harapan pada Biru yang juga hanya sekedar makhluknya, sama dengan aku. Sama dengan yang lain.

Sujud terakhirku begitu lama, begitu dalam. Aku sungguh-sungguh merasakan kehadiran-Nya, keindahan berdua saja bersama-Nya. Begitu terasa tangan kasih-Nya, mendekapku penuh cinta.
Inilah cinta yang selama ini aku cari, Membuatku makin meleleh dalam rasa damai.
Begitu ringan rasanya tubuhku. Begitu ringan rasanya kepalaku. Beban yang selama ini menghimpitku hilang seketika. Sesak di dadaku hilang dalam sekejap.

Maafkan aku Tuhan…
Seandainya aku tau bagaimana keindahan dan kenikmatan yang tak terhingga saat bersama-Mu ini sejak lama.
Tidak akan pernah aku berpaling.
Tidak akan pernah aku mendustakan kasih dan cinta-Mu.
Nyaman tak terhingga, damai yang utuh. Penuh, menyeluruh.

Masih dalam sujud terakhirku.
Hening.
Suasana dalam ruangan kamarku hening. Hanya terdengar detak jam dinding.
Aku masih sujud dan enggan melepaskan hangat dan damainya berada dalam dekapan-Nya.
Kubiarkan diriku disana, dalam sujud panjangku.
Perlahan aku rasakan sosok Biru menjauh.
Menjauh..
Tapi…
Dia tersenyum, senyuman yang sudah sangat aku kenal.

Apa betul yang aku rasakan ini namanya ikhlas seperti yang dikatakan Raffa.
Hening…
Tak kudengar lagi suara detak jam dinding kamarku.
Tak kudengar lagi suara isak lembut karena bahagia.

***

Biru, pagi ini aku ada di Bandara Soekarno Hatta. Aku akan pergi menunaikan tugasku.
Aku harus pergi ke Daerah untuk mengabdikan diriku, mengamalkan ilmuku, banyak mereka yang membutuhkan uluran tanganku.
Biru, aku sudah menitipkanmu pada Tuhan. Aku sudah melepaskanmu, bukan berarti aku melupakanmu.
Aku berani melepasmu, karena-Nya.
Berani bukan berarti tidak takut, Biru. Tapi ini pilihanku.
Dan aku harus memilih.
Benar apa yang kamu katakan, saat itu aku membiarkan kakiku terus berjalan, hingga ketengah, dan aku terluka oleh goresan karang saat aku ingin kembali.

Biru, aku akan ke Yogya, disana aku akan mulai semuanya dari awal, aku akan melakukan banyak hal untuk saudara kita yang sedang menerima indahnya ujian dari Tuhan..

Biru, ini terakhir kalinya aku menulis tentang perasaanku padamu.
Mungkin aku tidak akan pernah menulis lagi.
Aku hanya akan menulis betapa indahnya mencintai yang seharusnya kita cintai..
Yaitu mencintai-Nya, Biru..
Mencintai Tuhan kita..
Aku bersyukur Tuhan telah merengkuhku, dengan caran-Nya sendiri yang begitu unik, yang tidak pernah kita sangka, tidak pernah kita duga.
Aku merasa Tuhan bicara padaku melalui sederhananya kamu, bersahajanya kamu, polosnya kamu, apa adanya kamu..
Terima kasih Tuhan..
sudah saatnya ku kembalikan semua kepada Engkau, Tuhan.


***
Petugas kebersihan bandara itu, menutup lembar terakhir buku bersampul biru dengan gambar Tulip kecil sebagai hiasan covernya.
Tangan tuanya itu menyeka air mata yang membasahi wajah penuh garis-garis.

Dengan kaki yang mulai terasa kesemutan, dia mencoba berdiri.
Dibukanya lemari pakaian tuanya, buku itu diselipkan dengan hati-hati diantara beberapa lembar pakaiannya yang terlipat rapi tapi sudah sangat usang. Diusapnya dengan lembut buku itu.
Sekarang Ia tahu buku itu sengaja ditinggalkan, mungkin Sam sudah memiliki buku Biru yang baru.

Direbahkan tubuhnya diatas tikar, sebait doa lembut nan tulus terdengar lirih dari bibir tuanya, untuk seorang Sam, pemuda yang tidak pernah dikenalinya. Doa yang tulus, doa yang tanpa pamrih. Terpujilah cintamu Sam, engkau kembalikan pada satu-satunya Dzat yang memang layak kamu cintai sepenuhnya.
Semoga, Tuhan mempertemukanmu Dengan Biru dalam satu ikatan suci kelak, ah seandainya Biru tau bahwa Sam sudah menjadi seorang muslim sejak lama.


Note : ini adalah Cerpen yang paling ku suka dari website seseorang,,, yang ssudah lama ku dapat,,, dan ku simpan dinotebook ku...  hingga aku lupa dari mana ku dapat cerpen ini

CINTA DAN PENGORBANAN


Dedaun nyiur melambai-lambai seolah-olah memanggil insan yang sedang memerhatikannya. Sesekali,lambaian itu kelihatan lemah, tidak bermaya. Terkadang menggambarkan nyanyianya mengharapkan sesuatu, mungkin pertolongan dari hati suci nan tulus. Ditambah pula deruan ombak menghempas pantai menggamit suasana tenang,sepi. Kelihatan pasangan bahagia berjalan di gigi pantai sambil berpegangan tangan,mungkin sedang mengatur janji kehidupan. Namun berbeda sekali dengan insan yang sedang merenung  di kejauhan tepi pantai itu. Kelihatan badan yang tidak bermaya ibarat si penagih yang sedang menuggu saat kematian. Dia menunduk pada pasir nan putih,mungkin mengenang cerita lalu.
"kamu suka laut?"Diriku tersentak mendengar pertanyaan itu. "Laut?" Tanyaku kembali. "Suka…"Aku menambah. "Tau tak laut itu menggambarkan apa?"Tanyanya lagi. "Laut menggambarkan ikan,"jawabku seadanya. Dia menjeling. Mungkin kurang senang dengan jawabanku. Kelihatan jelingan mata yang bulat itu memperlihatkan kematangan yang ada pada dirinya. Dia bersuara kembali. "Cinta adalah laut. Laut yang tidak berpenghujung ibarat cinta yang tiada berakhir. Cinta yang tiada noktah. Cinta yang abadi…"Aku tersentak mendengar jawapannya. Belum sempat aku berkata,dia berlalu pergi sambil melemparkan senyuman manis dan lambaian suci ke arahku. Dia berlalu pergi. Dan entah mengapa,diri ini tiada terdaya mengejarnya.

------------------------

Malam itu,susahbagiku untuk melelapkan mata. Hati terasa resah,gundah. Bacaan Al-Quran yang ku dengar dari kaset  itu telah habis diputar. Aku beristighfar berkali-kali. Namun tiada juga terlelap mata ini. Masih terngiang-ngiang di telinga akan kata-kata Mei Ling di pantai petang tadi. Mei Ling,anak seorang hartawan wanita cina di pekanku telah dua tahun ku kenal. Minatnya dalam mendalami ajaran agama Islam menyebabkan aku kagum padanya. Akulah sumber rujukannya dari dulu. Aku dijadikan tempat bertanya tentang kemusykilan dalam ajaran Islam,tentang pandangannya yang negatif terhadap Islam serta segala permasalahan yang ada sepanjang mendalami ajaran suci ini. Walaupun dia masih belum mendapat hidayah dari-Nya, namun dia telah menghafal beberapa surah pendek dalam Al-Quran. Akulah yang mengajarnya bacaan tajwid dan cara bacaan yang betul.Di pantai itulah,dia menuntut ilmu dariku. "Fir,bolehkah aku bertanya?" tanya Mei Ling tiba-tiba. " Ah…Kau ini Mei…Mengapa perlu diminta keizinan? Tanyakan saja.."Balasku sambil tersenyum. "Fir,apa pendapat mu tentang Islam?"Tanya Mei Ling kembali. "Mei, mengertilah, Islam itu agama yang syumul, sempurna. Islam merangkumi semua aspek kehidupan. Apa saja yang menjadi pertanyaan dalam hidup ini, Islam ada jawabannya. Dan Al-Quran adalah sumber rujukan kepada semua permasalahan yang timbul. Islam tidak pernah melarang umatnya melakukan sesuatu. Contoh yang paling jelas adalah menghibur diri. Nikmat yang Allah kurniakan ini adalah untuk dirasa. Tapi kamu mesti tahu akan batas-batas yang telah ditetapkan oleh-Nya. Islam juga tidak menghalang percintaan antara dua insan .Sedangkan nabi Adam yang berada di syurga inginkan teman. Lebih-lebih lagi kita ini makhluk yang biasa. Kau…Aku…Semuanya inginkan teman…"Kataku panjang lebar. Mei Ling menjeling kepadaku. Dia diam membisu. Mungkin terperangkap dengan kata-kata terakhirku tadi.

-----------------------

Dua hari kemudian, aku menerima panggilan telpon dari Mei Ling. Aku terkejut mendengar suara suara tangis dari gadis cina itu. Suara yang tersekat-sekat menyebabkan aku sukar mentafsir apa yang yang hendak disampaikannya. Aku terus meletakkan gagang telpon dan bergegas ke rumahnya. Aku terkejut. Kelihatan seorang perempuan tua di suatu sudut dengan wajah yang tidak pucat. Kelihatan Mei Ling di sisinya menangis. Perempuan tua itu adalah ibu Mei Ling. Tanpa membuang-buang waktu, aku terus membawanya ke Rumah Sakit.

-------------------------

"Saya harap, kamu bersabar. Ibu kamu menghidap penyakit kanker perut. Dia memerlukan pembedahan dengan kadar segera. Kalau tidak,peluangnya untuk hidup adalah tipis…"Kata-kata dari dokter itu begitu memeranjatkan Mei Ling. Dia menangis. Aku coba menenangkan Mei Ling. Namun tangisannya semakin menjadi-jadi. Oh…Ujian apa yang menimpamu Mei Ling.

--------------------------

"Mei Ling, paman ingin menyampaikan pesan mamamu kepada mu,"kata Chong, paman  Mei Ling. "Apa paman?",tanya Mei Ling lemah. Chong menghulurkan satu sampul surat kepada Mei Ling. Mei Ling terus membukanya….

Anakku Mei Ling,
Mama telah menghidap penyakit ini setahun yang lalu. Namun Mama rahsiakan darimu .Mama sudah tau  akan adanya operasi  yang akan dilakukan terhadap Mama. Namun dengarlah anakku, Mama hanya akan menyetujui  pembedahan dilakukan andai dirimu melupakan niat untuk memeluk Islam.
Mei Ling,
Mama tidak ada mempunyai  orang lain di dunia ini. Hanya kau anakku. Mama rela mati andai kau meninggalkan agama nenek moyang kita.
Mamamu,
Choo...

Mei Ling rebah. Bagaikan satu halilintar yang memanah dirinya. Kini, terbayang wajah mamanya. Terbayang pula kitab suci Al-Qur’an dan Fir, mentornya dalam bertanyakan soal jawab agama. "Adakah ini dugaan untukku?" Mei Ling berbicara dalam hati. "Mama, aku sayang padamu. Andai kau tiada, dimana hidup ini dapat menumpang kasih? Fir… Adakah ini cobaan dari tuhanmu? Tuhan yang bakal aku sembah suatu hari nanti? Mengapa ini harus terjadi padaku?" ucap Mei Ling sendirian.

-----------------------

"Fir, apa yang kau fikirkan itu?" Tanya Bukhari, sahabat baikku. Namun, aku diam. Fikiranku jauh menerawang. Terbayang wajah Mei Ling, terbayang pula sendu tangisnya di Rumah Sakit tempoh hari. "Mei Ling, walau apa pun terjadi, aku tetap menjagamu, membimbingmu ke jalan yang kau impikan selama ini. Percayalah, ibumu akan selamat dan akan mengikut jalan yang kita tujui bersama. Jalan mencapai keridhoan-Nya." Aku mengukir kata di hati.
"Fir, ini ada surat buatmu." Diberikan  Bukhari kepadaku. Ku buka surat itu. Perlahan…

Saudaraku Firdaus,
Bila kau terbaca surat ini, mungkin waktu itu ibuku sedang menjalani pembedahan.
Fir,
Ada sesuatu yang ingin ku sampaikan. Ibuku telah meletakkan aku dalam keadaan serba salah. Fir, dia tidak akan menjalani pembedahan andai aku meneruskan niat untuk memeluk Islam. Baginya, dia sanggup mati andai melihat aku meninggalkan ajaran nenek moyangku. Maafkan aku Fir. Di dunia ini aku hanya ada ibuku. Dialah segala-galanya. Terima kasih atas bimbinganmu selama ini.
Mei Ling….

Aku terduduk. Badan terasa lemah lemah. Tiada berdaya. Mata berbinar. "Mei Ling, mengapa begitu sempit fikiranmu? Di mana kekuatan hatimu selama ini? Di mana keikhlasanmu terhadap Islam? Mengapa dirimu begitu lemah? Lemah dengan dugaan dunia. Adakah tidak cukup apa yang aku sampaikan selama ini? Mei Ling… Mengapa?" Berbagai persoalan menerjah kotak fikiranku.

-----------------------------------

Hari ini, hidup tiada lagi bererti. Tiada apa lagi yang inginku kejar, kucari. kepergian Mei Ling dari hidupku ibarat merusakkan seluruh kehidupanku. "Fir, di mana kekuatanmu selama ini? Di mana pengetahuanmu dalam berbicara soal agama? Mengapa begitu lemah batinmu? Hancur  dengan seorang insan bergelar Hawa. Insan yang tiada membawa arah. Lemah dengan dugaan dunia. Cinta hakkiki hanya pada yang Esa. Adakah kau lupa semua itu Fir? Mengapa begitu sempit  pemikiranmu? Fir, mengertilah. Cinta hakiki hanyalah padanya. Mengertilah Fir…" Begitulah kata-kata pedas dari Ustaz Saufi yang mengunjungiku siang tadi. Ustaz Saufi yang mengajarkan ilmu agama itu begitu mengambil berat akan diriku.
Beberapa minggu selepas kunjungan Ustaz Saufi, aku mendapat berita yang Mei Ling telah melangsungkan perkahwinan dengan jejaka pilihan ibunya. Berita itu begitu cepat tersebar ke seluruh pekan ini. "Mungkin dia bahagia sekarang." Rintih hatiku…

-----------------------------------

SETAHUN KEMUDIAN

"Fir, adakah kamu membaca berita hari ini?" Tanya Bukhari tergopoh-gopoh. Belum. Mengapa Bukhari?" Tanyaku balik. Tanpa menjawab pertanyaanku, Bukhari terus menghulurkan selembar  koran  yang dibacanya kepadaku.
PEKAN SIPUT,20 AGUSTUS: HARTAWAN MATI DITEMBAK
Hartawan terkenal di pekan ini, Puan Choo Jui ditemukan tewas berlumuran darah di kepala. Mendiang  ditembak oleh menantunya kerena adanya  perselisihan pendapat tentang pembagian harta dalam keluarga tersebut. Menantunya, Tan Bai Loon, ditahan untuk penyidikan polisi. Sementara anak  mendiang ,Mei Ling Soon, ditempatkan di Rumah Sakit karena pingsan akibat dicederakan oleh suaminya.

Aku begitu terkejut mendengar berita tersebut.Tanpa menunda waktu, aku langsung ke Rumah Sakit. Bukhari menghalangiku. Namun, difikiranku hanya terbayang wajah Mei Ling. Sesampainya di Rumah Sakit, aku melihat Mei Ling terkulai diruangan Rumah Sakit. Kelihatan wajahnya begitu lesu. Malam itu, aku menemaninya. Sepanjang malam tersebut, beberapa kali Mei Ling memanggil nama ibunya. Mungkin dia mengalami mimpi buruk akibat kejadian tragis itu.
Keesokan harinya, mayat mendiang Choo Jui  dikebumikan. Aku begitu terharu karena Mei Ling tidak sempat melihat wajah mamanya buat kali terakhir. Tanpa kusadari, air mataku mengalir mengenangkan nasib yang menimpa dirinya. Sementara itu, suami Mei Ling, Tan Bai Loon, menjadi tersangka pembunuh mertuanya, mendiang Choo Jui. Dia dikenakan hukuman gantung sampai mati.
Seminggu selepas kejadian menyayat hati itu, barulah Mei Ling sadar. Kali pertama dia membuka mata, melihat aku di sisinya, dirinya begitu terkejut. "Fir, mengapa kau berada di sini? Aku di mana? Apa yang telah terjadi? Mengapa kau menangis Fir?" Tanya Mei Ling berkali-kali kepadaku. Aku terpaksa menjelaskan semua yang berlaku kepadanya. Walaupun berat hati ini untuk berbuat demikian. Mei Ling menangis teresak-esak mendengar penjelasanku.
"Fir,maafkan aku. Aku khilaf. Aku khilaf Fir. Mungkin ini balasan buatku. Mengapa semua ini harus terjadi kepadaku Fir? Aku telah menolak Islam. Sedangkan selama ini, aku begitu tenang mendalami ajarannya." Itulah kata-kata keinsafan dari Mei Ling. Disusuli tangisan yang tidak henti-henti...
Sebulan kemudian, di hadapan Imam masjid pekan tersebut, Mei Ling telah melafazkan kalimah syahadah. Namanya ditukar kepada Aisyah Ling Binti Abdullah. Itulah saat-saat yang paling bahagia dalam hidupku…

--------------------------------

Masa berlalu…Kukira tiada lagi tangis dalam hidup Aisyah. Dan juga dalam hidupku. Namun, manusia hanya mampu merancang. Allah menentukan segala-galanya. Panggilan telefon pada suatu pagi dari Rumah Sakit, menghadirkan kembali episod duka dalam hidup aku dan Aisyah. Aisyah diminta ke Rumah Sakit.
"Nona Aisyah, diharap Anda  bersabar. Berdasarkan hasil laboratorium ketika anda dirawat di Rumah Sakit  kami dulu, Anda didapati menghidap HIV positif dari bekas suami Anda. Dan hidup anda  sudah tidak berapa lama lagi." Begitulah kata-kata dokter pada pagi itu.
Aisyah menangis. Apa lagi yang terdaya dilakukan oleh makhluk lemah bergelar wanita itu. "Oh…Tuhan…Adakah ini ujian mu kepadaku? Mengapa semua ini harus terjadi? Mengapa begitu berat ujianmu ini? Dosaku terhadapmu tak sanggup kuhitung. Amalku terhadap mu tiada lagi mencukupi. Mengapa begitu cepat nyawa ini ingin kau ambil kembali? Ampunilah dosaku. Hambamu yang hina ini merintih simpati darimu. Ampunilah dosaku…"Mei Ling merintih sendirian dalam doanya pada malam itu…

-----------------------------------

"Di pantai itu, aku menemani Aisyah. Aisyah, masihkah kau ingat saat ini?" Tanyaku. "Hmm…Cinta adalah laut. Laut yang tidak berpenghujung ibarat cinta yang tidak berakhir. Cinta yang tiada noktah. Cinta yang abadi. Seperti cintaku kepada Penciptaku," katanya penuh perasaan. "Benar katamu itu. Cinta yang paling agung adalah cinta hamba ini kepadanya. "Aisyah, Allah telah mengurniakan banyak nikmat cinta buatku. Nikmat cintaku kepada-Nya. Dan nikmat cintaku kepada seorang hambanya. Hambanya yang berada di depan mataku ini. Aku mencintaimu Aisyah," kataku penuh keikhlasan. Aisyah kaget. Dia diam. Tunduk. Tuduk tiada kata. "Aisyah, tataplah mataku. Aku ingin memperisterikanmu. Percaya pada kataku ini. Aku sanggup menanggung semuanya. Aku rela Aisyah," tambahku lagi. Aisyah menangis...
"Fir, hidupku tinggal sebentar lagi. Kau akan menyesal suatu hari nanti. Kau sanggup kehilangan aku?" Tanya Aisyah. "Mengertilah Aisyah…Mengapa harus kulupakan akan nikmat cinta kurniaan Allah ini? Sedangkan ini adalah nikmat yang Allah telah kurniakan buat semua hambanya. Aku akan menjagamu. Hidup dan mati adalah ketentuannya. Cinta hakikiku hanya kepada-Nya. Tapi, salahkah aku mencintai hamba-Nya ini? Salahkah kalau aku ingin membantumu, menyayangimu, seperti mana Allah menyayangi hamba-Nya? Kau terlalu memikirkan akan kematian itu. Aisyah, kita hanya mampu merancang. Allah menentukan. Tataplah mataku. Kau adalah cinta abadiku. Dan Allah cinta hakikiku…"Jawabku panjang lebar.

-----------------------------------

Kebahagian berumah tangga bersama Aisyah begitu singkat berlalu. Banyak kenangan indah yang diukir bersama. Namun di suatu pagi yang hening, di saat umat Islam lain sedang menzuhudkan diri mereka kepada Allah, Aisyah telah pergi buat selama-lamanya. Wajahnya begitu tenang bercahaya.Meninggalkan aku sendirian…
"Fir suamiku,terima kasih atas segalanya.Aku menunggumu di sana…"Itulah kata-kata terakhir Aisyah kepadaku. Aku pasrah. Malam itu, Aisyah hadir dalam mimpiku. Melambai-lambai kepadaku. Di satu tempat yang begitu indah, suci…

-----------------------------------

Kelihatan pemuda yang sedang tunduk ke pasir itu bangun dari tempatnya. Dan berlalu pergi… Itulah Firdaus. Hari-hari seterusnya tiada lagi kelihatan Fir di pantai itu. Di suatu malam yang sunyi, Fir telah menghembuskan nafasnya yang terakhir. HIV positif yang diderita dari arwah isterinya, menular padanya yang berakhir  kepada kematian itu. Dia dikebumikan di sebelah pusara arwah isterinya,Aisyah Ling binti Abdullah. Mungkin mereka sedang bahagia di sana…
Inilah Islam, cinta dan pengorbanan…..

Rabu, 08 September 2010

Istikharah Cinta

Bila tlah kau catatkan dia akan jadi milikku
Satukanlah hatiku dan hatinya
Titipkanlah kepada kami bahagia yang abadi
Melayari hidup ini dengan ridlomu ilahi
Namun bila tlah kau takdirkan dia bukanlah milikku
Bawa jauh dia dari pandanganku.
Lenyapkanlah kebahagiaan saat dia disisihku
Dan pelihara diriku dari kecewa hatiku.
Tenangkanlah hatiku dengan lembut cintamu
Dengan kasih sayangmu.
Agar ku merasakan indahnya karuniamu
Yang kau anugerahkan untukku.
Janganlah kau biarkan aku hidup sendirian
Membawaku di kegelapan dunia.
Maka berikanlah diriku pasangan yang beriman
Agar aku dan dia dapat
Setia tuk menyembahmu.

Pengorbanan Cinta

Allah Enkau maha mengetahui
tak terkecuali hati yang tak jua luput dari pengetahuanMu
baik rasa yang melintas ataupun yang mendendap
dan semua itu adalah keagungan takdirMu
Enkau tahu bahwa kini di hati ini
bunga-bunga cinta menggusarkan jiwaku
aku jatuh cinta pada makhluk yang telah Engkau jadikan indah dalam pandanganku
ku tak ingin rasa ini menutupi pandangan qolbuku dari kekuasaanMu
Oh God … what can I do …
should I keep this love
to someone who has teased this heart
or should I disclose my heart
Duhai penunjuk jalan di kala hati tak tentu arah
Wahai cahaya terang di saat tiba kegelapan
bentangkan jalan pancarkan cahaya pada mata dan ruang hatiku
labuhkan perahu layar penuh ombak dan badai di dermaga keridloaanMu
kembali pada cinta …
apakah ini hanya ada dalam hatiku saja
ataukah bunga cinta juga tumbuh di hatinya
jangan-jangan aku hanya bertepuk sebelah tangan saja … menyedihkan
Oh God … what can I do …
should I keep this love to someone who has teased this heart
or should I disclose my heart
I was in a confusion
cinta oh cinta
suatu waktu ketika aku memikirkanmu
mengumpulkan data atas mereka yang bahagia dan terluka karenamu
maka berdasarkan analisis hatiku aku menyimpulkan tentangmu
engkau hanyalah perspektif waktu
dan aku tak ingin terjebak dalam relativitasmu
yang meenggelamkanku dalam hubungan linier semu
karena adanya diferensiasi yang disembunyikan dalam hati
probabilitas kebalikan sifatmu kadang tak terduga
mampu memunculkan determinasi hatiku dan hati dia nantinya
ku tak ingin hal itu menggugurkan validitas cintaku
karena hubungan yang positif dan signifikan adalah pengharapanku
ya Allahu yaa Rohmaan
Inni Audzubika Minal Hammi Wal Hazan
ya Allahu yaa rohiim irhamna
wa Inni asalukal qolbun salimun salaman
Aku mengerti bahwa rasa ini bukan sekedar lintasan
karena bunga-bunga cinta hatiku telah menumbuhkan putik-putik rindu
begitu susah rasa ini aku palingkan
Apalagi ketika malam datang, bayang hadirnya meramaikan kesendirian
once again
Oh God … what can I do …
should I keep this love to someone who has teased this heart
or should I disclose my heart
????????????
?
??
??????????????????????
Allah …
JIka suatu saat nanti telah terkumpul keberanian
sampai tersingkaplah rasa cinta ini padanya
Kumohon … Arahkanlah hatinya untuk menerimanya
hingga indahnya bunga cinta mekar dengan sempurna
Namun jika dia menolaknya
Lewat angin … afirmasikanlah bahwa dia tak layak untukku
dan Engkau telah menyiapkan bidadari terbaik untuk diriku
yang akan engkau turunkan diantara bintang dan rembulan
Dan andai nanti dia menerimanya
maka vibrasikanlah penerimaan itu terhadap keluarganya
karena aku tak ingin cinta yang tak direstui
yang akan memberikan peluang bagi setan untuk membisikkan kawin lari
astaghfirullahal ‘adzim
Allah … sungguh tak ada yang tahu kehendakMu
Bisa jadi Kau hembuskan cinta di hatiku dan dihatinya
namun tidak bagi wali yang mewakili dirinya
Jika itu terjadi … hancurkanlah cinta
hancurkan rasa itu sebagaimana kau hancurkan kaum-kaum yang telah mendustakanMu
karena telah kupaksakan hati untuk mencintaimmu di atas cinta selainMu
but …
a hope in my heart
I want to meet her
in one day one heart to be forever
Ya Allah perkenankan permohonan cintaku
“permohonan cinta”

Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana

Penulis : Inayati


Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan pelik.
Ulang tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”
Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang.
Heran, apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.
Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta.
Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.
Rasa kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini.
Sebenarnya, hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan. Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.
”Hen, kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima lamaranku lewat Diah.
”Kamu kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi, apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik. Itu sudah lebih dari cukup buatku.
Minggu-minggu pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.
Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian suamiku.
Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.
”Kenapa Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak dengan jitu.
Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.
Aku terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku membenarkan apa yang diucapkan Ibu.
Ya, selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.
”Hen, kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Ibu berkata tenang.
Aku memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli suaminya?
Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?
Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.
Makan malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang. Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.
Aku terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’ tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.
Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Lewat kata yang tak sempat disampaikan
Awan kepada air yang menjadikannya tiada
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu. *
For vieny, welcome to your husband’s heart.
*dikutip dari Aku ingin mencintaimu dengan sederhana karya Sapardi Djoko Damono.

Sumber : Majalah Ummi, edisi 12/XIII/2002

Jumat, 13 Agustus 2010

Puteri Serry Banun


P : agi yang indah kusambut dengan senyuman
U : ngkapkan semua yang ku rasa
T : etap bertahan dan slalu yakin
E : sok akan kutemukan kebahagiaan
R : intihan air mata ku lebur menjadi sesuatu
Y : ang indah pada waktunya

S : inar matahari yang 
E : nggan memberikan sinar untukku. hanya
R : intik hujan penuhi hari ku, namun ku percaya
R : intangan kan segera berakhir, dengan izin
Y : ang maha kuasa………………

B : agai kemarau menanti hujan, dalam
A : lunan hati yang hanyut seperti
N : yanyian kehidupan, slalu bersenandung
U : ntuk ku kenang dalam hati ini, hingga
N: anti  semua berakhir dengan satu keindahan

RAPUH

Dalam kesunyian gelap
Aku tak mampu menahan tetesan air
Yang membasahi pipi
Detik waktu telah beribu kulalui
Berhias gelap dan terang
Bagai lukisan
Yang membuatku jatuh
Tersadar dalam rapuh
Apakah semua akan berakhir
Hatiku menangis
Memohon ampunan-Mu tuhan
Meski ku tidak bisa
Menjadi yang terbaik
Namun cinta
Dalam jiwa hanyalah pada-Mu
Ku Persembahkan yang terindah
Dalam hidup ku
Untukmu wahai tuhan
Yang telah memberiku segala

(PRINCES)

Kamis, 12 Agustus 2010

HILANG

Tersenyumlah Saat Kau Mengingatku

Karna Saat Itu Aku Sangat Merindukanmu

Dan Menangislah Saat Kau Merindukanku

Karna Saat Itu Aku Tak Berada Disampingmu

Tetapi Pejamkanlah Mata Indahmu Itu

Karna Saat Itu Aku Akan Terasa Ada Didekat Mu

Karena Aku Telah Berada Dihatimu

Untuk Slamanya

Tak Ada Yang Tersisa Lagi Untuk Ku

Selain Kenangan-Kenangan Yang Indah Ku Bersama Mu


Mata Indah Yang Dengannya Aku Biasa Melihat Keindahan Cinta

Mata Indah Yang Dahulu Adalah Milik Ku

Kini Semuanya Terasa Jauh Meninggalkan Ku

Kehidupan Terasa Kosong Tanpa Keindahan Mu

Hati Cinta Dan Rindu Ku Adalah Milikmu

Cintamu Takan Pernah Membebaskan Ku

Bagaimana Mungkin Aku Terbang Mencari Cinta Yang Lain

Saat Sayap-Sayap Ku Telah Patah Karena Mu

Cintamu Akan Tetap Tinggal Bersamaku

Hingga Akhir Hayat Ku

Dan Setelah Kematian

Hinga Tangan Tuhan Menyatukan Kita Lagi

Betapa Pun Hati Telah Terpikat

Pada Sosok Terang Dalam Kegelapan

Yang Tengah Menghidupkan Sinar Redup Ku

Namun Tak Dapat Menyinari

Dan Menghangatkan Perasaan Ku

Yang Sesungguhnya

Aku Tidak Pernah Bisa Menemukan Cinta Yang Lain Selain Cintamu

Karna Mereka Tak Tertandingi Oleh Sosok Dirimu Dalam Jiwa Ku

Kau Takaan Pernah Terganti

Bagai Pecahan Logam

Mengekalkan Kesunyian, Kesendirian Dan Kesedihan Ku

Kini Aku Telah Kehilangan Mu.